<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841</id><updated>2011-04-21T13:06:58.893-07:00</updated><title type='text'>Cingkaruk Sastra (Polemik Sastra Banjar)</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-3675584560556550887</id><published>2008-08-23T12:38:00.000-07:00</published><updated>2008-08-23T12:43:06.134-07:00</updated><title type='text'>MEMETIK BANJAR DARI POLEMIK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="PT-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Agus R. Sarjono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Penyair dan esais. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Redaktur Horison, Ketua DPH DKJ (2003–2006)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Berawal dari esai Jamal T. Suryanata yang ditanggapi Sainul, merebaklah polemik sastra Banjar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Sejujurnya, ketika diminta saudara Sainul untuk memberi pengantar atau catatan atas polemik ini, saya bahagia sekaligus tegang. Bahagia karena saya dilibatkan dalam pembicaraan para sahabat, tegang karena kesibukan saya yang menggila belakangan ini membuat saya mungkin tidak sanggup menepati janji sesuai tenggat alias &lt;i style=""&gt;deadline&lt;/i&gt;. Maka saya putuskan untuk membaca tulisan-tulisan yang banyak itu dengan jurus pamungkas seorang “redaktur sejati”, yakni membaca sekilas alias membaca cepat alias &lt;i style=""&gt;skiming&lt;/i&gt; untuk menangkap kesan umum, kemudian mencoba menuliskan tanggapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Sepulang dari beterbangan kian-kemari, saya buka file yang dikirim via email tersebut dan mulai membacanya. Namun ternyata niat membaca sekilas itu tidak tercapai. Tanpa sadar saya terserap dengan asyik oleh tulisan-tulisan itu. Saya tergoda bukan hanya oleh apa yang dituliskan, melainkan terutama apa yang tidak dituliskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tulisan Jamal T. Suryanata (JTS) yang mengungkapkan keresahannya melihat fenomena Sastra Banjar yang bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau, akibat kurangnya perhatian, membangunkan banyak fihak untuk menanggapinya yang dimulai dengan tanggapan Sainul. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Makin lama nada polemik rupanya makin keras dan makin melibatkan emosi para penulisnya. Persoalan Sastra Banjar ternyata melibatkan hati dan emosi selain akal fikiran. Mungkin ada yang menyesalkan keterlibatan emosi ini, namun saya pribadi tidak keberatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Jika kita telusuri jalannya polemik, ternyata polemik Sastra Banjar tersebut –disadari atau tidak–berjalan dalam dua tataran yang tidak selalu sejalan, meski bukan tidak berhubungan. Kedua tataran tersebut adalah (sebut saja) “tataran teoretis akademis” dan “tataran praktis kepengarangan”. Keduanya dalam polemik ini tidak tidak selalu bertemu dan bersambut gayung. Tidak jarang satu fihak yang berbicara mengenai tataran kajian akademis dijawab dan ditanggapi dari perspektif dan tataran praktis kepengarangan, atau sebaliknya. Beberapa percik api yang muncul dalam polemik ini seringkali akibat dua tataran yang berbeda ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lepas dari argumentasi-argumentasinya, apa yang digelisahkan JTS masuk akal dan sahih: mengapa sastra (berbahasa) Banjar tidak mendapat perhatian sepatutnya, baik bagi kalangan masyarakat Banjar secara umum, maupun terutama kalangan akademis. Saya kira, kegelisahan inilah yang mengantarkan dia menuliskan karangannya dalam bentuk esai dan bukan dalam bentuk makalah ilmiah. Bentuk esai menyediakan jalan bagi JTS untuk membicarakan pokok soal Sastra Banjar tanpa harus melalui liku-liku definisi atau rumusan serta penjelasan akademis. Tanggapan Sainul justru langsung menuju ke urusan definisi dan rumusan akademis dengan memperkarakan kesahihan teoretis –sekurang-kurangnya kekukuhan jalinan argumentasi JTS dalam urusan rumusan sastra Banjar itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;JTS yang diterjang bangunan teoretisnya –sesuatu yang tidak selalu harus ada dalam sebuah karangan esai– dalam jawaban-jawabannya segera menyusuli bentuk esai itu dengan penjelasan-penjelasan “teoretis” dengan menggelar paparan definisi Sastra Banjar dan selanjutnya tema ini lah yang menjadi tema utama polemik. Kegelisahan awal, yakni nasib Sastra Banjar, sudah tidak terlalu kerap lagi dibicarakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sisi lain, Sainul memperkarakan definisi dan jalinan teoretis esai JTS bisa diasalkan pada kecemasannya bahwa perhatian dan semangat berlebih pada Sastra Banjar akan berujung pada pengertian Sastra Banjar sebagai sebuah konsep tertutup sehingga Banjar tidak lagi menjadi sebuah pengertian deskripsi melainkan menjadi pengertian preskripsi, tidak objektif melainkan ideologis. Kecemasan yang sama muncul pada Jarkasi yang dengan nada lebih rileks mencoba meluaskan pengertian Sastra Banjar menjadi lebih elastis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;–gembrot– dalam istilah Sainul. Para penanggap lain, memasukkan diri dalam dua tataran yang digelar JTS dan Sainul, sedapat mungkin dengan argumentasi dan pandangannya sendiri, tentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari dua hal ini, ternyata JTS yang sastrawan makin lama makin mendekati posisi akademis dan di sisi lain Sainul dan Jarkasi yang akademis makin lama makin mendekati posisi seorang sastrawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebenarnya, menggelisahkan kelangsungan Sastra Banjar jelas masuk akal dan dalam banyak hal diperlukan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Di sisi lain, menggelisahkan kemungkinan budaya Banjar menjadi budaya yang tertutup dan lebih gawat lagi menjadi chauvinistis, bukan hanya kegelisahan yang wajar melainkan juga patut disadari. Maka, sekali lagi, pada dasarnya polemik ini adalah polemik antara kegelisahan melihat sastra Banjar bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau vs kecemasan jangan-jangan semangat menggebu untuk menghidupkan sastra Banjar dan semangat kebanjaran ini tiba pada motto &lt;i style=""&gt;Banjar uber alles&lt;/i&gt; yang ketika dipraktekkan di Jerman pada zaman Nazi membuat Jerman bangkrut itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kedua kekhawatiran itu masuk akal, namun sayang tidak adanya benih yang memungkinkan –sejauh terlihat pada semua tulisan dalam polemik ini– kita tiba pada apa yang dicemaskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Apa yang dituliskan JTS pada awal polemik ini, sebenarnya sesuatu yang sangat relevan bagi dunia akademis, namun kurang begitu relevan bagi dunia sastra dan kesastrawanan di Banjar. Sementara tulisan Sainul dan Jarkasi sangat relevan bagi dunia kesastrawanan Banjar, namun kurang begitu relevan bagi dunia akademis di Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Apa yang digelisahkan dan ditengarai JTS dalam banyak hal adalah juga apa yang digelisahkan dan ditengarai oleh Abdul Hadi WM. Dengan cukup keras Abdul Hadi mengecam Universitas Indonesia karena di Fakultas Ilmu Budaya (dulu Fakultas Sastra)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terdapat pusat kajian Jepang, Pusat Kajian Amerika, dan Pusat Kajian Cina, misalnya, namun tidak ada Pusat Kajian Melayu, Pusat Kajian Hindu-Budha, atau Pusat Kajian Islam. Abdul Hadi berpendapat bahwa kebudayaan Indonesia berdiri di atas pilar agama Hindu-Budha dan agama Islam. Agama Hindu Budha lah yang melahirkan khasanah sastra agung berupa kakawin-kakawin besar serta karya agung seperti Arjuna Wiwaha dan sebagainya. Sementara tidak lain tidak bukan agama Islam lah yang melahirkan khasanah sastra agung berupa syair dan hikayat serta pantun. Bagaimana mungkin –demikian Abdul Hadi, kita sibuk membuka kajian-kajian asing dan lupa membuka kajian bagi pilar-pilar penting budaya dan sastra di Indonesia. Bagaimana mungkin kita sibuk melakukan penelitian sastra lisan sementara khasanah sastra tulis yang agung dan berlimpah diabaikan. Sastra lisan, demikian Abdul Hadi, lahir dari tradisi-tradisi kecil yang belum menghasilkan aksara; sementara tradisi tulis lahir dari tradisi-tradisi besar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Saya tidak akan memberi catatan atas ditel argumen Abdul Hadi yang mungkin tidak saya setujui, karena secara umum saya setuju dengan keberatannya. Ditilik dari segi itu, memang sangatlah wajar jika Universitas terpandang di Banjarmasin memiliki Pusat Kajian Banjar, termasuk pusat kajian sastra Banjar. Adalah wajar pula jika universitas terpandang di Banjarmasin memasukkan khasanah Sastra Banjar dalam kurikulum fakultas sastranya. Hanya universitas terpandang di Banjar sendirilah yang berhak dan patut menjadikan sastra berbahasa Banjar sebagai bidang kajian yang hasil-hasilnya kelak dipersembahkan bagi pengayaan mosaik keindonesiaan kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jika demikian apakah yang disebut sastra Banjar? Saya tidak akan ikut dalam polemik ini dengan ikut berkutat mendiskusikan definisi sastra Banjar. Jika kegelisahan itu disepakati, fihak universitas mendirikan Pusat Kajian Budaya dan Sastra Banjar, fihak Pemda memberi dukungan politik dan dana bagi pusat kajian bersangkutan, maka persoalan definisi mulai dapat dilakukan. Sebelum itu, penelitian dapat didasarkan pada rumusan yang sederhana bahwa Sastra Banjar adalah Sastra yang ditulis dalam bahasa Banjar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah isinya berupa sikap budaya atau etnologi Banjar atau bukan, itu urusan kemudian. Bukan tidak mungkin Sastra Banjar jumlahnya kemudian melimpah dan setelah diteliti kita tidak menemukan kebanjaran pada sastra Banjar. Mengapa hal itu terjadi, apa sebabnya secara sosiologis, psikologis, dsb., tentu merupakan tugas-tugas kajian dan penelitian berikutnya. Boleh jadi, setelah kajian-kajian dan penelitian-penelitian, rumusan mengenai apa dan bagaimana Sastra Banjar dapat dilakukan kembali dengan lebih sahih dan kokoh.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun, apakah maruah, jiwa, kegelisahan, dan impian manusia Banjar hanya bisa dikemukakan dalam sastra berbahasa Banjar? Ini masalah yang lain lagi. Kebanjaran bisa lahir dengan kuat dalam sastra (berbahasa) Banjar di tangan seorang sastrawan hebat yang menguasai bahasa Banjar dengan hebat dan menguasai duka gelisah manusia Banjar dengan sepenuh hati dan pikirannya. Sekalipun demikian, kebanjaran sudah barang tentu bisa lahir dengan tidak kalah kuatnya dalam sastra (berbahasa) Indonesia, bahkan dalam sastra berbahasa Inggris atau bahasa Urdu sekalipun. Dunia Maluku dengan mitos dan impian serta kegelisahan Maluku dengan baik sekali dituliskan Maria Dermout (dengan bahasa Belanda, tentu) dalam novelnya &lt;i style=""&gt;Ten Duizen Dingen&lt;/i&gt;, sebuah novel yang cukup berwibawa dalam khasanah sastra Belanda. Hingga kini, tak seorang pengarang Indonesia pun –apalagi pengarang Maluku– yang berhasil mengatasi kegemilangan karya Dermout tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Masalah utama dunia sastra di Indonesia adalah masalah penguasaan yang benar-benar mumpuni (&lt;i style=""&gt;mastery&lt;/i&gt;) atas bahasa yang digunakan sang sastrawan. Masalah utama lainnya adalah penguasaan yang benar-benar mumpuni dan &lt;i style=""&gt;mastery&lt;/i&gt; atas bahan yang hendak dituliskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Alhasil, bagi sastrawan Banjar tidak penting benar apakah ia akan menulis dalam bahasa Banjar mengenai soal Banjar, menulis dalam bahasa Banjar mengenai soal bukan Banjar, menulis dalam bahasa Indonesia mengenai soal Banjar, maupun menulis dalam bahasa Indonesia mengenai soal bukan Banjar. Yang penting adalah seberapa kenal ia dengan apa yang ditulisnya, seberapa hidup ia menuliskannya, dan seberapa gemilang pencapaian sastrawinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Sudah sejak lama dalam berbagai tulisan dan seminar saya mengusulkan sastrawan Indonesia untuk mengolah dan menulis yang “&lt;i style=""&gt;lokal&lt;/i&gt;”. Sebagian daripadanya terdapat dalam buku saya &lt;i style=""&gt;Sastra dalam Empat Orba&lt;/i&gt; (2001). Saya senantiasa beranggapan bahwa peluang penulis sastra Indonesia, khususnya para penulis di berbagai daerah di Indonesia, adalah justru menghasilkan karya yang kuat berakar pada lokalitas. Jika saya menyebut kata lokalitas, sama sekali saya tidak memaksudkannya sebagai warna lokal, sebagaimana pernah menjadi trend sastra Indonesia pada tahun 80-an. Lokalitas tidak lain tidak bukan adalah keterlibatan dan perhatian yang sungguh-sungguh seorang sastrawan atas tempatnya berpijak, pada persoalan yang ada di depan hidungnya, pada lingkungannya yang paling akrab dengan fikiran, nadi dan kalbunya. Toni Morisson menulis novel hebat &lt;i style=""&gt;Beloved&lt;/i&gt; tidak lain tidak bukan mengenai problem kulit berwarna dengan segala duka derita, impian dan gelisahnya. Ia menulis sebagai seorang kulit hitam, meskipun menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya adalah bahasa Inggris kulit hitam, bukan bahasa Inggris Hemingway. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Demikian pula dengan gao Xingjian yang meskipun &lt;i style=""&gt;exile&lt;/i&gt; ke Perancis, ia menggali memori tanah kelahirannya dan melakukan perjalanan napak tilas ke negerinya untuk menghasilkan karya besarnya &lt;i style=""&gt;Lingshan&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Hal ini juga berlaku pada V.S. Naipaul yang menulis novel-novel khas seperti &lt;i style=""&gt;A House for Mr. Biswas, &lt;/i&gt;serta&lt;i style=""&gt; A Bend on the River&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Tidak diragukan lagi bahwa Shakespeare adalah sastrawan Inggris yang agung. Namun, hampir dipastikan ia tidak akan mampu menulis novel seperti &lt;i style=""&gt;A House for Mr. Biswas&lt;/i&gt; Naipaul; demikian pula dengan Hemingway, tidak bakal mungkin ia mampu menulis novel seperti &lt;i style=""&gt;Beloved&lt;/i&gt; Toni Morisson. Semua novel ini ditulis dalam bahasa Inggris, namun jiwa Black American Morisson dan jiwa India Naipaul berdenyut dalam setiap frasa dan kalimat-kalimatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Sebaliknya, sajak-sajak Godi Suwarna dalam bahasa Sunda, khususnya yang terkumpul dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Blues Kere Lauk&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;Blues Dendeng Ikan&lt;/i&gt;) sarat dengan tema-tema asing seperti “Gran Prix”, “Black Sabbath”, “Jim Morisson” dan sebagainya. Apakah dengan demikian ia kehilangan kesundaannya? Justru tidak. Dengan sangat kuat sajak-sajak Godi menunjukkan bagaimana manusia Sunda menanggapi dan berkutat dengan persoalan globalisme yang menghantam harmoni tanah Priangan. Di saat yang sama, dengan mudah kita temukan karya sastra Sunda yang bertema seolah-olah Sunda dan ditulis dalam bahasa Sunda sama sekali tidak menunjukkan kesundaan. Hal ini menjadi jelas manakala diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan adalah salah satu cara menguji karya sastra. Jika sebuah novel berbahasa Banjar diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi Indonesia, maka kebanjaran tidak lain hanya sebatas bahasa, meskipun dia merupakan khasanah sastra Banjar. Banyak sastra Indonesia jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris langsung menciut menjadi gema dari sastra Inggris atau Amerika yang gagal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Saya percaya bahwa sastra besar di Indonesia—dalam bahasa Indonesia atau daerah—hanya bisa dihasilkan jika pengarangnya benar-benar masuk dan mengolah lokalitasnya masing-masing. Upaya mengharukan untuk tersaruk-saruk menjadi murid sastra dunia (baca: Barat) hanya akan menghasilkan murid abadi yang tak lulus-lulus. Salah satu pelajaran bagi calon penulis adalah &lt;i style=""&gt;copy the master&lt;/i&gt; alias meniru sang maestro. Tahapan ini adalah tahapan awal yang harus segera ditinggalkan oleh calon penulis untuk menjadi penulis sejati. Mengingat berlimpahnya sang maestro sastra di dunia ini, maka mereka yang gemar &lt;i style=""&gt;copy the master&lt;/i&gt; akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk meng&lt;i style=""&gt;copy-copy&lt;/i&gt; sang master tanpa berpeluang untuk menjadi master. Dalam biografinya, Gabriel Garcia Marquez mengakui sangat mengagumi Hemingway dan berteriak memanggilnya “Maestro!!” Namun, jika saja Marquez bermental penulis modis yang bertebaran di Indonesia, maka sudah dipastikan dunia tidak akan mengenal sang maestro bernama Marquez yang bahkan melampaui kepiawaian Hemingway. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Seorang sastrawan, Banjar misalnya, yang menulis urusan-urusan umum dengan perspektif dan gaya berpuisi yang dipatok media massa tidak akan pernah sampai ke mana-mana. Mungkin satu dua sajak atau cerpennya bisa dimuat di media massa Jakarta, tapi tidak pernah akan menjadi sastrawan sesungguhnya. Sastrawan sejati tidak gelisah hanya karena tidak dimuat di media besar atau tidak ditahbiskan oleh orang pusat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tapi ia benar-benar gelisah jika tidak menghasilkan karya besar. Dan karya besar hanya bisa dilahirkan jika dia menuliskan urusan-urusan yang diketahui dan dikuasainya dengan akrab dan mendalam, yakni urusan-urusan yang berdenyut dalam urat darahnya, menyusup dalam mimpi-mimpinya, dan menggelisahkan hari-harinya. Dan semua itu, kehidupan yang dekat dengan diri dan hatinya, dituliskan dengan bahasa yang dikuasainya dengan baik mulai dari sistemnya hingga nuansa-nuansanya. Dari sini bisa lahir dunia Banjar yang ditulis oleh pendatang Madura atau Batak, dunia Banjar yang ditulis oleh orang Banjar pedalaman, dunia Banjar yang ditulis oleh orang Banjar yang tinggal di kota, dunia batin manusia Banjar yang bermuka-muka dengan budaya lain, dan sebagainya. Apakah persoalan ini akan ditulis dalam bahasa Banjar atau bukan tentu bergantung pada bahasa yang secara mumpuni dikuasai penulis bersangkutan. Apakah bahasa yang dikuasainya adalah bahasa Banjar atau bahasa Indonesia atau bahasa Urdu atau bahasa Inggris, sama sekali bukan persoalan seorang sastrawan. Seorang sastrawan akan menuliskan dengan bahasa yang dikuasainya dengan mantap, karena bukan menjadi urusan sastrawan sejati apakah ia termasuk sastrawan Banjar, sastrawan inggris, sastrawan Indonesia atau sastrawan Zimbabwe. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Benar bahwa dunia batin dan dunia budaya Banjar akan terdedah dengan baik jika ditulis dengan bahasa Banjar, karena bahasa Banjar memang kompatibel bagi budaya Banjar. Namun, seorang pengarang yang menguasai bahasa Indonesia (bahkan Inggris) dengan baik akan mampu mencari jalan untuk mengungkapkan dunia batin dan budaya Banjar dengan bahasa Indonesia atau Inggris, dengan tantangan yang berbeda dengan jika ia menulis dalam bahasa yang kompatibel dengan dunia batin dan budaya yang ditulisnya. Ajip Rosidi pernah mengutip sepenggal karya Haji Hasan Mustapa dalam bahasa Sunda yang penuh dengan permainan bunyi, sambil mengatakan bahwa sajak ini mustahil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan permainan bunyinya. Karena penasaran, kami mencoba, ternyata sajak itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pengalaman saya menerjemahkan sajak-sajak penyair besar Jerman dalam rangka &lt;i style=""&gt;Seri Puisi&lt;/i&gt; Jerman menunjukkan bahwa pada dasarnya bahasa memiliki pula sifat generic sehingga dapat saling diterjemahkan. Maka dunia Jerman pun bertransformasi dalam bahasa Indonesia lewat terjemahan. Sebaliknya pun demikian bila sastra Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Benar apa yang dikemukakan Jose Saramago, bahwa “&lt;i style=""&gt;sastrawan dengan bahasanya menciptakan sastra nasional. Sastra dunia diciptakan oleh penerjemah&lt;/i&gt;”. Untuk kasus Indonesia ia bisa berbunyi, sastrawan Banjar (dan daerah lain) dengan bahasanya menciptakan sastra Banjar (dan sastra daerah lain). Sastra Indonesia diciptakan oleh penerjemah (ke dalam bahasa Indonesia).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagi sastrawan Banjar yang akan menulis dalam bahasa Banjar, pendapat Saramago ini dapat dijadikan pegangan. Sejak lama saya menyerukan perlunya menerjemahkan sastra daerah ke dalam bahasa Indonesia. Maka jika sastrawan Banjar menulis dalam bahasa Banjar, menjadi tugas Pusat Kajian Budaya dan Sastra Banjar lah untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia agar menjadi bagian dari sastra Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ada persoalan yang tidak produktif namun laten dalam sastra di Indonesia, yakni kegelisahan sastrawan untuk diakui pusat dan menulis dengan selera pusat. Pusat, adalah sebuah mitos dan boleh jadi ilusi. Ini berani saya katakan karena lebih dari 6 tahun saya berdiam di lembaga yang dianggap pusat dalam sastra Indonesia, yakni majalah &lt;i style=""&gt;Horison&lt;/i&gt; dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Sebagai redaktur majalah &lt;i style=""&gt;Horison&lt;/i&gt; dan Ketua Komite Sastra DKJ, kemudian salah seorang Ketua Dewan Pengurus Harian DKJ, saya melihat dan menyadari bahwa potensi sastra justru berdiam di daerah-daerah. Baik dalam &lt;i style=""&gt;Horison&lt;/i&gt; maupun di DKJ—sekurang-kurangnya periode saya—kami menolak adanya mazhab sastra tertentu sebagai mazhab panutan. Hal ini bisa diuji dengan membaca karya yang dimuat di &lt;i style=""&gt;Horison&lt;/i&gt; atau menilik sastrawan yang ditampilkan atau diterbitkan DKJ. Niscaya akan didapati beragamnya gaya dan mazhab estetik. Mengapa? Karena seorang sastrawan sejati tidak patut mematut-matut diri untuk sesuai dengan selera estetik media manapun atau &lt;i style=""&gt;so called&lt;/i&gt; tokoh-tokoh sastra manapun agar bisa dimuat atau diberi kesempatan. Estetika dan gaya sastra yang otentik niscaya lahir dari pergulatan yang otentik dengan kehidupan sang sastrawan. Gaya estetik bukanlah baju dalam &lt;i style=""&gt;fashion shows&lt;/i&gt; yang dengan mudah dipasang dan dicopot peragawati tergantung selera desainer tertentu. Sastrawan Banjar yang menuliskan persoalan yang hidup di tanahnya dengan segala duka gelisahnya niscaya menghasilkan karya yang tak tergantikan dan tidak bisa ditulis oleh Rendra, Sutardji, Goenawan Mohammad atau siapapun, sebagaimana &lt;i style=""&gt;Ronggeng Dukuh Paruk&lt;/i&gt; tidak mungkin bisa ditulis oleh bukan Ahmad Tohari.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Hikmah yang didapat dari polemik panjang ini adalah kita diajak kembali merenungi dan memandang ulang sastra Banjar, jiwa Banjar, budaya Banjar, impian Banjar. Semoga nikmat perdebatan ini segera disusul oleh nikmat perbuatan, yakni segera berdirinya lembaga kajian budaya dan sastra Banjar di universitas terpandang di Banjar, meningkatnya perhatian serta dukungan—baik politik maupun finansial—dari pemerintah daerah, serta semaraknya penulisan karya-karya agung di Banjar yang dimasyarakatkan dan diperkenalkan lewat berbagai cara—pendidikan resmi dan pemasyarakatan di media setempat. Juga semoga dunia batin dan budaya serta kegelisahan dan impian masyarakat Banjar yang merupakan ladang emas dan uranium yang hebat dapat ditambang dan digali sendiri oleh para sastrawan Banjar menjadi karya-karya emas dalam sastra Indonesia. Saya menunggu hasilnya sambil bersedia-sedia membantu sebisa mungkin jika memang diperlukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Terakhir, semoga polemik ini tidak berakhir seperti pantun berikut ini: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Jarum jahit penusuk bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Tiba di bulan patah tiga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Di langit tanda kan hujan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Di bumi setetes tiada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Salam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Agus R. Sarjono&lt;i style=""&gt;. Penyair dan esais. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Redaktur Horison, Ketua DPH DKJ (2003–2006). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-3675584560556550887?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/3675584560556550887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=3675584560556550887' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/3675584560556550887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/3675584560556550887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/memetik-banjar-dari-polemik.html' title='MEMETIK BANJAR DARI POLEMIK'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-2222510356896662387</id><published>2008-08-23T12:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-23T12:37:18.773-07:00</updated><title type='text'>SASTRA BANJAR DAN SASTRAWAN BANJAR DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh Harie Insani Putra&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Nyatanya bahasa begitu penting dalam kebudayaan, sama halnya terhadap karya sastra. Untuk menentukan identitas, Indonesia mengadopsi kalimat &lt;i&gt;essay&lt;/i&gt; menjadi esai, &lt;i&gt;short&lt;/i&gt; &lt;i&gt;story&lt;/i&gt; menjadi cerita pendek, &lt;i&gt;poem/poetry&lt;/i&gt; menjadi puisi. Modernisasi reformis adalah gejala budaya kita di Indonesia yang saling mempengaruhi di antara semua, terlebih pada sastra Indonesia. Kita adopsi modernisasi dengan menyesuaikan warisan-warisan budaya yang ada di Indonesia tanpa harus menerima &lt;i&gt;western modernisme&lt;/i&gt;seutuhnya. Salah satunya adalah bahasa Indonesia untuk menunjukan identitas keindonesiaannya, untuk menulis cerpen, bahasa Indonesia menunjukkan bahwa cerpen tersebut adalah karya sastra Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Soal identitas, tulisan ini akan disebut esai, tidak dikatakan cerpen atau puisi karena kita akan merujuk pada identitas yang sudah jelas. Tapi jika tulisan ini menggunakan bahasa Banjar apakah disebut esai Banjar. Jika demikian harusnya bermunculan label Banjar seperti Cerpen Banjar, Puisi Banjar, Esai Banjar, Novel Banjar yang hasilnya mengadopsi identitas yang mulanya juga &lt;i&gt;adopsian&lt;/i&gt;. Sebenarnya Banjar tidak mengadopsi macamnya Indonesia, hanya saja menambahkan nama etnis sebagai identitas barunya. Disebut apapun, kenyataannya, pada estetika karya, Indonesia lagi-lagi kebanyakan mengadopsi teknik dan bentuk-bentuk &lt;i&gt;short story&lt;/i&gt; dalam cerpen Indonesia. Betapa riskan dan minimnya penggalian identitas untuk disebut sastra Indonesia. Apakah nanti sastra Banjar juga demikian, punya beda hanya dari segi bahasa tapi segala teknik, bentuk dan isi sama saja dengan yang diadopsinya. Indonesia kaya budaya, Banjar juga majemuk dengan nilai-nilai historisnya, tidak kita gali hanya gara-gara masuk jaring dusta, ini &lt;i style=""&gt;lho&lt;/i&gt; Banjar, &lt;i style=""&gt;begini lho&lt;/i&gt; Indonesia, padahal kita sedang terperangkap pada kuantitas dalam memahami arti identitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Dalam kumpulan esai sastra ‘solilokui’ Budi Darma, dia mengisahkan tentang perjalanan seorang bernama Nirdawat ke berbagai negara. Sebelumnya Nirdawat berucap “Pengarang yang baik adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi.” Setelah sering berkunjung ke beberapa negara, barulah disadari oleh Nirdawat bahwa para pencipta tradisi di tanah air ternyata menirunya dari sana, bahkan ketika sampai Belanda, Nirdawat tak bisa mengelak, dia menemukan buku yang membicarakan dirinya “Kritikus Anting-Anting” cerpennya itu dibandingkan dengan sebuah novel Austria. Nirdawat hanya diam, dia memang mengagumi Pafpof pengarang novel itu tetapi dia tidak pernah merasa dipengaruhinya dan “Kritikus Anting-Anting” sendiri telah membentuk tradisi tersendiri dalam penulisan cerpen di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Anggap saja kisah di atas untuk penyegaran kita terhadap kondisi yang mana saling menginspirasikan. Dalam perbincangan sastra Banjar, kita masih dalam penentuan definisi yang baru akan diperjelas. Semoga sajalah sampai pada esensi sebuah karya sastra, khususnya  Banjar. Memang tawaran bahasa Indonesia masuk ke dalam sastra Banjar tentunya akan berdampak luas terhadap perkembangan sastra Banjar karena kita pun juga tahu bahwa sastra daerah sulit berkembang di daerahnya sendiri apalagi di daerah lain. Tapi masalahnya tidak semudah itu, apa yang sudah diungkapkan Sainul Hermawan dalam usahanya menggali daerah dengan bahasa Indonesia sebenarnya juga adalah tema hangat yang sedang ramai dibicarakan di pentas nasional oleh orang-orang daerah yang kemudian menjadi nasional. Misalnya, Radhar Panca Dahana dalam buku &lt;i style=""&gt;Kebenaran dan Dusta dalam Sastra&lt;/i&gt; menyinggung sastrawan cenderung mengangkat isu-isu universal, justru latar belakang etnis ataupun kebudayaan tempatnya berada tidak sedikitpun mempengaruhi karya-karya mereka. Tidak ada yang unik dari Jogja, Bali, Solo, Tegal, Cirebon, semua berbondong menyesuaikan tema nasional yang universal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Perhatikan saja cerpen &lt;i style=""&gt;Jawa Pos, Kompas, Media Indonesia.&lt;/i&gt; Tapi, meskipun begitu, tidak semua, masih ada sastrawan nasional dengan gaya nasionalnya mampu bicara tentang daerah. Mereka gunakan pola-pola penyampaian yang dapat diikuti secara nasional dan tetap menarik melalui teknik bercerita yang terus digali, tidak itu-itu saja. Ini kiranya harapan kita semua. Kita perkenalkan Banjar dengan kemampuan bahasa yang lebih mudah dimengerti banyak orang. Daerah kita usung ke nasional tentunya juga dengan bahasa nasional sebagai medianya. Kita juga tidak harus bergantung pada koran nasional, banyak media alternatif yang tak kalah efisien menyebarluaskan karya kita sekaligus materi yang ditawarkannya. Hanya tinggal kita mau tidak berusaha mencari dan menyebarluaskannya ke sana, bukan mengeluh, duduk, menunggu tapi mengejar dan belajar. Saya tidak ingin menyebut nama tapi saya yakin 60% sastrawan kita gagap teknologi. Mudah-mudahan tidak gagap informasi. Fasilitas internet menunjang kita untuk mengetahui perkembangan sastra sampai tingkatan dunia bukan mengurung diri dan asyik dengan dunia sepinya sendiri, marginalitas dan kepasrahan yang diagung-agungkan, merasa sudah cukup puas dengan apa yang sudah didapatnya tapi juga asyik mengeluh secara diam-diam. Apalagi yang bersifat daerah, prestis sentralistik Orde Baru menganggap popularitas hanya didapat dari cara yang satu saja. Padahal, sejak tahun 1990-an, dikatakan oleh &lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan dan wartawan &lt;i style=""&gt;Republika&lt;/i&gt;, yang disiarkan dalam milis sastra Internet,  bahwa konstelasi sastra Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; sudah &lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;terpecah (terdekonstruksi) sebagai bentuk perlawanan terhadap pusat Jakarta dengan TIM (DKJ) dan &lt;i style=""&gt;Horison&lt;/i&gt;-nya. Sejak didirikan pada awal 1970-an, memang DKJ dengan TIM-nya, berhasil mencitrakan diri sebagai 'pusat sastra' nasional yang berwibawa. Sastrawan belum dianggap berkelas nasional jika belum 'dibaptis' oleh mereka. Demikian juga majalah &lt;i style=""&gt;Horison&lt;/i&gt;, sebelum&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;sastra koran membagi perannya, dianggap sebagai satu-satunya 'kiblat kualitatif' dan puncak prestasi estetik sastra Indonesia. Padahal pusat-pusat lain bisa saja dimunculkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;dengan kemungkinan akses ke media massa tidak kalah dibanding DKJ-TIM.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="HTMLTypewriter3"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Banyak sastrawan berpendapat bahwa peran pusat nilai sastra harus dibagi, sehingga peluang bagi para penulis daerah dan Jakarta sendiri terbuka semakin luas untuk diakui secara nasional. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Jika seorang sastrawan Banjar menulis dengan bahasa Indonesia kemudian disebut bukan sastrawan Banjar padahal yang ditulisnya soal Banjar, &lt;i&gt;rada&lt;/i&gt; aneh juga, terkesan betapa tergesanya disimpulkan. Sastra Banjar dan sastrawan Banjar punya perbedaan yang mendasar. Sastrawan Banjar dengan bahasa Indonesia lebih mampu meluaskan Banjar kepada masyarakat Indonesia di sudut manapun. Hemat saya, bukan bahasa &lt;i&gt;tok&lt;/i&gt; yang ingin diperkenalkan tapi sekian banyaknya sisi lain tentang Banjar itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Apakah karena ditulis dalam bahasa Indonesia lalu bukan sebagai sastra Banjar? Boleh jadi “Ya”, tapi perlu dicatat, kita belum sepakat dan mereka adalah juga sastrawan Banjar sekaligus sastrawan Indonesia terlepas daripada pengakuan para arogansi ‘paus-paus sastra ibukota’. Tapi bukan lantas untuk menyikapi kondisi sastra Banjar yang limbung para sastrawan Banjar bersama para kritikusnya saling menawarkan “Suka Banjar yang Banjar atau Indonesia yang Banjar?” dengan memberikan dua pilihan yang jelas-jelas memiliki perbedaan yang mendasar. Ada beda sastra Banjar dan sastrawan Banjar apalagi kita belum masuk pada masalah kondisi bersastra di daerah maupun di Indonesia. Kita harap &lt;i&gt;urang Banjar&lt;/i&gt; sendiri yang luas cakupannya bahkan secara &lt;i&gt;political will&lt;/i&gt; dapat memberikan kontribusi yang jelas terhadap perkembangan sastra dan budaya Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Gembrot atau singset bukan pilihan yang absolut. Kedua-duanya memiliki kebenaran yang dapat ditawar. Sastra Banjar memang harus menghadapi problematikanya sendiri dalam kemampuan berbahasa dan ini terjadi juga pada daerah-daerah lain. Bagaimanapun tak dapat kita pungkiri pengajaran sastra di Indonesia masih di bawah rata-rata apalagi sastra diajarkan mirip dengan disiplin ilmu lainnya, teori melulu, prakteknya kapan? Yang penting dihafal saja &lt;i&gt;wong&lt;/i&gt; soal-soal ujian nasional juga meminta kita menjawab dari apa yang kita hafalkan. Toh tidak ada tuntutan institusi pendidikan untuk mencetak seorang sastrawan, jika pun ada itu terserah anda, kemauan si pendidiknya dan kemauan yang dididiknya. Itu baru soal sastra Indonesia belum lagi sastra daerah. Yang Indonesia saja minor, apalagi yang Banjar. Mencari jawaban untuk keluar dari masalah ini dibutuhkan banyak pihak untuk ikut mengambil kebijakan. Sastra Indonesia masih bertahan sebab ada institusi pendidikan yang masih mengajarkan, kelompok-kelompok sastra dan tentunya medium bahasa Indonesia dipandang lebih mudah sebagai alat komunikasi dibandingkan bahasa daerah. Karena pendidikan sastra dianggap bagian dari bahasa Indonesia maka pendidiknya bebas boleh siapa saja, tidak terbatas kepada orang Banjar. Namun ketika berhadapan dengan sastra Banjar, itu soalnya. Pengetahuan bahasa dan budaya Banjar si pendidik akan menghambat proses pengajaran sastra Banjar, lebih-lebih pengetahuannya dalam mempraktekan sastra. Karena tidak paham dengan apa yang dihadapi, satu-satunya jalan kembali pada teori dan menghafal. Itupun sudah cukup &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;. Jangan serius, tidak ada yang menuntut anda menjadi sastrawan tapi itulah salah satu bagian kenapa sastra Banjar atau sastra pada umumnya tidak sanggup mengakar di Banjar. Mengikuti bahasa Indonesia saja masih &lt;i&gt;blepotan&lt;/i&gt; apalagi Banjar yang memiliki subkultur masalahnya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;Lalu bagaimana dengan sastrawan yang menggunakan bahasa Indonesia? Andainya benar mereka bicara Banjar dalam karya sastranya, bisa jadi kebudayaan Banjar juga akan mengakar dan bisa diketahui oleh banyak orang tidak hanya dari segi bahasa. Tapi upaya ke arah sana masih satu di antara seribu yang sudah mencobanya. Sering mereka menjadi murni sastrawan, mengangkat tema-tema universal yang di manapun bisa saja terjadi, &lt;i&gt;Banjaris nonsense&lt;/i&gt;. Contoh lain perlu juga kita perhatikan karya sastra Banjar yang banyak ditulis oleh para sastrawan Banjar tentunya dengan bahasa Banjar. Kadang mereka juga bertema universal, &lt;i&gt;nonsense &lt;/i&gt;kepada Banjar. Apakah bahasa bisa diterima begitu saja tanpa memperhatikan unsur-unsur lainnya dalam pembentukan karya sastra Banjar? Banjar itu adalah etnis daerah, sewajarnya kita memandang Banjar dalam proporsi kedaerahan. Jika ngomong soal Banjar, mari kita kemas persoalan dalan konteks kedaerahan. Bagaimana kedudukan sastra Banjar di daerah, bagaimana peran sastrawan Banjar di daerahnya sendiri, lalu kita bawa ke Indonesia, bagaimana sastrawan Banjar membawa daerahnya, bagaimana sastra Banjar menjadi pengobat rindu bagi orang-orang Banjar yang di sini atau memilih hidup di luar wilayah Kalimantan. Mari sama-sama kita pikirkan untuk memberikan identitas yang sudah terlambat waktunya. Oh iya, ini sudah di zaman apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; color: black;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-2222510356896662387?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/2222510356896662387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=2222510356896662387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/2222510356896662387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/2222510356896662387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/sastra-banjar-dan-sastrawan-banjar-di.html' title='SASTRA BANJAR DAN SASTRAWAN BANJAR DI INDONESIA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-1621237634438272773</id><published>2008-08-23T12:32:00.000-07:00</published><updated>2008-08-23T12:35:02.076-07:00</updated><title type='text'>MEMPERSOALKAN IKON SASTRA BANJAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-weight: normal; font-style: normal;" lang="PT-BR"&gt;Oleh Jarkasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-style: normal;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;olitik sastra identitas, sebutlah misalnya sastra Banjar adalah sastra yang berbahasa Banjar, memiliki konsekuensi logis makna yang tidak tunggal. Sebagai representasi identitas, sastra Banjar masih harus bertarung dengan sastra berbahasa Indonesia tetapi memiliki muatan yang amat kental dengan aspek kultur Banjar. Tentu dalam pengertian ini bahasa Banjar bukanlah identitas utamanya. Ini karena pemahaman bahwa &lt;i&gt;ikon&lt;/i&gt; bahasa Banjar bukanlah identitas yang bisa menampung harapan-harapan besar sastra etnis ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Saya kira persoalan ini menjadi wajar-wajar saja, bukankah A. Teeuw juga sudah mengisyaratkan bahwa sastra selalu berada dalam ketegangan dan pembaharuan. Ini menyiratkan bahwa sastra Banjar dalam fase-fase pengertian dan karakter yang dibawanya selalu berdialektik. Apakah yang berdialektik itu substansinya atau secara intrinsik medium bahasa yang membawanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Dikotomi ini sering sangat rumit sifatnya, sebab secara tekstologis kita tidak bisa lagi berpegang pada satu di antara keduanya. Sastra Banjar misalnya hampir tidak mengenal di luar bentuk yang saat ini sudah dikenal seperti pantun, syair atau hikayat. Menyebut sastra Banjar ini lebih ditunjukkan ikon bahasanya, Banjar. Tapi dengan substansi itu sajakah sastra Banjar dicirikan, sehingga tidak terasa maju-maju. Mengorbitlah sebagian penulis genre-genre baru seperti &lt;i&gt;kisdap&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;kisah handap&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;kisbung&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;kisah basambung&lt;/i&gt;) atau juga puisi bahasa Banjar, lalu mereka menamakannya sastra Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Proses penciptaan sastra dan efek daya cipta seorang sastrawannya mengkreasikan bentuk mediumnya dengan model-model modern dapat kita telusuri. Cara mereka mengembangkan bentuk serta memberikan batasan bahwa yang diciptakan itu adalah sastra Banjar barangkali perlu direnungkan lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Saya memahami, baik secara tipologis maupun substansi model yang dibawanya tidak bisa dipisahkan dengan sastra modern. Ada dua alasan yang mengintainya; pertama secara struktur fiksionalitasnya sudah berubah, demikian pula untuk puisi, tidak pernah lagi tipografinya sama dengan bentuk pantun atau irama syair. Satu-satunya yang dipaksa menjadi ikon adalah bahasa, padahal ikon tersebut hanya prasangka-prasangka. Ikon bahasa tidak banyak membantu kita untuk bisa menampung perubahan sikap dan cara berpikir dalam menyuarakan hal-hal yang bersifat makro. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Pengertian sastra Banjar memiliki medium bahasa Banjar mengalami ketegangan yang harus segera dicairkan. Politik bahasa nasional telah menggariskan bahwa bahasa daerah sebagai bahasa pengantar kebudayaan daerah, dalam substansi ini termasuk sastra berbahasa Banjar. Meski dalam kenyataannya tidak bisa kita hindari bahwa tidak semua sastra yang berbahasa Indonesia—sesungguhnya juga—memiliki cara menyuarakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan mengekspresikan dengah bagusnya dalam bahasa Indonesia, tapi kenyataan, politik bahasa itu sendiri masih harus kita pelihara. Karena itulah, sebagian dari sastra daerah tidak memiliki vitalitas untuk disebut sebagai sastra Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Jika kita bertahan dengan ikon seperti itu, selamanya sastra daerah tidak bisa naik pangkat untuk mengungkap persoalan-persoalan krusial dalam dunia sastra daerah Sastra daerah selalu kita pandang tidak pantas duduk sejajar dengan sastra Indonesia. Eksotisitas-eksotisitas bahasa bisa jadi hanya memberikan kesan menyenangkan sebentar karena ia &lt;i&gt;panoramic&lt;/i&gt; belaka. Di sinilah panoramisitas sejalan dengan sastra turistik. Sastra semacam ini hanya mentertawakan diri sendiri karena mengober &lt;i&gt;kebloonan&lt;/i&gt; atau sengaja mengupas persoalan-persoalan yang sudah lama ditinggalkan orang, tetapi kita menganggap berisi sesuatu yang sangat khas, unik, menarik, dan sebagainya lagi untuk memberi arti lebih &lt;i&gt;harat&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Pembelaan ide bahwa sastra Banjar bukanlah semata-mata dicirikan dengan Bahasa Banjar, saya kira cukup beralasan. Artinya, jika sastra daerah identik dengan bahasa daerah, persoalannya terlampau menyederhanakan kedudukan dan fungsi sastra daerah. Sastra daerah mestilah dapat diangkat ke dalam khazanah sastra Indonesia meski permasalahan yang dibawanya bersifat sangat lokal, tetapi fenomena budayanya sangat urgen. Secara makro kita bisa beranalogi sebagaimana kebudayaan nasional selalu dimaknai sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Secara politis, jika satu budaya diberi kesempatan tampil secara nasional, maka sejak itulah dia dinobatkan sebagai bagian budaya nasional yang &lt;i&gt;adiluhung&lt;/i&gt;. Kesempatan yang sama tentu juga diberikan untuk budaya mana saja di khazanah sastra daerah di nusantara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Jika kita ingin mengutamakan bahasa Banjar sebagai ikon sastra Banjar, maka konsekuensinya adalah tidak ada medium bahasa lain yang mampu mengungkap persoalan-persoalan budaya Banjar tanpa bahasa Banjar. Sastra berbahasa Indonesia kenyataannya mampu mengangkat imaji-imaji ekstrinsik kultur Banjar, dia menjadi tidak lazim disebut sastra Banjar kalau kita mempertahankan pemahaman seperti itu. Inilah persoalan yang menyengat itu. Berarti ikonnya tidak hanya bahasa,&lt;i style=""&gt; ‘kan&lt;/i&gt;? Kenyataannya, sastra berbahasa Indonesia mampu mengungkap aspek-aspek kultur suatu daerah. Sering orang menamakannya, sastra seperti berwarna lokal, padahal istilah lokal tidak tepat untuk menyebut karakteristik budaya. Karena itu, amat tidak arif jika kita tidak bersedia menginteraksikan bahwa bahasa Indonesia sebetulnya juga memiliki peluang sebagai sarana pengungkapan kultur daerah &lt;i&gt;includ&lt;/i&gt;e cerpen Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Kita juga menyadari tugas penyeragaman bahasa Indonesia untuk tidak sekadar diungkapkan dalam persoalan-persoalan kenegaraan dan kesatuan, sebetulnya juga telah berhasil menjadikan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkap pikiran dan perasaan dalam kebudayaan lokal. Ini sebuah kenyataan keberhasilan politik bahasa. Novel &lt;i&gt;Upacara&lt;/i&gt; (Korrie Layun Rampan), meski ditulis dalam bahasa Indonesia, telah mampu mengungkapkan substansi kultur Dayak yang pas, akan sangat arif orang menyapanya karya sastra Dayak. Novel &lt;i&gt;Palas&lt;/i&gt;—terlepas dari persoalan intertektualitas yang ditemukan—mampu bersinergi dengan pernik-pernik budaya lokal Bukit. Bisa saja amat tidak strategis dipahami dalam bahasa lokal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Sulitnya meningkatkan vitalitas bahasa Banjar sebagai bahasa yang memiliki pikiran-pikiran maju, ketika dia harus memelihara cara-cara berpikir yang amat tradisional. Cerita-cerita berbahasa lokal cenderung memanjakan sikap-sikap tradisional yang seharusnya sudah ditumbangkan di abad sekarang. Lagi-lagi kelemahan vitalitas bahasa Banjar ini juga ingin tetap dipertahankan, sebab karya sastra berbahasa daerah itu dianggap paling mantap, paling tua, paling &lt;i&gt;adiluhung&lt;/i&gt;, paling unik, dan paling tidak dipunyai oleh orang lain. Sebenarnya, argumen-argumen seperti itu masih ada untuk karya sastra yang sudah terlanjur lahir sejak dahulu, tetapi untuk karya-karya sastra daerah bentukan baru di abad sekarang seyogianyalah direkadaya agar memiliki vitalitas yang tidak kalah menarik.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Ninuk Kleden (2002) telah menyadari pemakaian identitas sebetulnya telah ada sebelum tanda dianggap sebagai representasi. Pernyataan ini boleh saya tafsirkan, sebelum ada bahasa Banjar sebetulnya identitas itu telah ada. Kehadiran bahasa daerah sebagai sarana pengungkap bisa dimaknai sebagai penampilan kembali identitas yang telah terbentuk. Selanjutnya, Ninuk juga menyatakan penampilan kembali sarana bahasa (sebagai sarana budaya) yang diperlakukan sebagai identitas boleh disebut selalu bersifat politis. Persoalannya adalah, setiap sesuatu yang dipandang secara politis, sebetulnya tidak akan mampu menempatkan persoalannya menjadi lebih kokoh. Pikiran ini bisa saya analogikan bahwa sastra Banjar pun akan mengalami perubahan proses kepada kenyataan yang tidak selalu bisa dibayangkan bahwa bahasa Banjar selalu membawa kebanjaran atau sebaliknya bahasa Indonesia tidak selalu dapat membawa misi keindonesiaan. Inilah yang saya katakan selalu bersifat politis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Persoalannya tidak selesai hari ini, sebab akan terjadi pertarungan pengertian antara identitas dan tanda yang mewakilinya. Jadi saya setuju sekali, bukan caranya memperbanyak ilustrasi-ilustrasi untuk memberi penjelasan tentang sastra berbahasa daerah, tetapi kita harus memahami bahwa makna sastra selalu berada dalam ketegangan dan pembaharuan. Bagaimana pun kita harus selalu meningkatkan peran bahasa daerah menjadi medium sastra daerah yang tidak berpikiran lokal. Seyogianyalah sastra daerah itu memiliki pikiran global atau sebaliknya juga disindir sebaiknyalah sastra berbahasa Indonesia mampu membawa subtansi budaya daerah secara komprehensif. Ini akan menjadikan konteks pengucapan sastra kita sudah mampu lebih terbuka dan sangat memahami politik identitasnya, tidak dalam koridor kepantasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Saya berpendapat tidak hanya politik kesusastraan Indonesia yang perlu kita rombak, tetapi juga politik bahasa nasional yang terlampau menciptakan minor dalam blantika sastra Indonesia harus dihapuskan. Momentum ini harus berani kita gerakkan sebagai suatu cara untuk mendudukkan persoalan secara lebih manusiawi. Akibat kebijakan yang minor ini, terlampau banyak nama-nama &lt;i style=""&gt;beken&lt;/i&gt; sastrawan di daerah yang menulis karya sastranya dengan bahasa daerah tidak diakui sebagai sastrawan Indonesia. Lebih-lebih kalau kita sendiri memahami secara tradisional bahwa sastra berbahasa daerah itu adalah sastra daerah. Dikotomi semacam ini tentu tidak strategis lagi. Akibat dikotomi itu bisa terjadi baru satu dua biji memuat sastra berbahasa Indonesia—secara kebetulan hari ketika puisi itu dimuat di media massa—tim penulis sastra Indonesia melakukan pencatatan, maka dialah yang menjadi tokoh sastrawan Indonesia. Ini efek dari pandangan yang keliru dalam memahami &lt;i&gt;ikon&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt; sastra&lt;/i&gt; kita sementara ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Secara politis kita harus mengubah karakteristik sastra Banjar, tidak saja dikenali karena bahasanya tetapi juga &lt;i&gt;ikon&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt; budaya&lt;/i&gt;nya. Jadi bisa terjadi sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris disebut sastra Banjar karena persoalan yang dibawanya kental sekali dengan budaya lokal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 28.05pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-1621237634438272773?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/1621237634438272773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=1621237634438272773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/1621237634438272773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/1621237634438272773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/mempersoalkan-ikon-sastra-banjar.html' title='MEMPERSOALKAN IKON SASTRA BANJAR'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-6013363618224099869</id><published>2008-08-23T12:28:00.000-07:00</published><updated>2008-08-23T12:31:59.791-07:00</updated><title type='text'>HABIS SURAH</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma; font-weight: normal;" lang="IN"&gt;Oleh Burhanuddin Soebely&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sainul Hermawan, dalam &lt;i&gt;Keasingan dan Keintiman dalam Rumah Sastra Banjar&lt;/i&gt;, mengutip sajak &lt;i&gt;Jangan Bercinta dengan Penyair &lt;/i&gt;karya Faiizi L. Kaelan. Kutipan itu kuanggap sebagai pilihan Sainul untuk memosisikan diri di kancah sastra Kalimantan Selatan ini. Sungguh, aku merasa bersyukur jika Sainul Hermawan mau memosisikan dirinya sebagai musuh para pesastra, sebab agaknya musuh itulah yang diam-diam tengah dicari oleh (sebagian) pesastra di &lt;i&gt;banua &lt;/i&gt;ini. Setidaknya, dalam pembicaraan informal beberapa kawan saat Aruh Sastra Kalimantan Selatan di Tanah Bumbu, terbetik semacam konvensi untuk meletakkan persahabatan atas nama permusuhan sehingga diharapkan seseorang akan amat berhati-hati untuk mengumbar pemikiran atau menerbitkan karyanya di berbagai forum dan media. Kendati konvensi tersebut masih diembel-embeli dengan selektivitas personal—dalam arti kedewasaan dan kematangan seseorang dalam berbeda pendapat dan menerima sejumlah kritik—namun telah mencerminkan perlunya sebuah dialektika, semacam tembok di depan yang dapat memantulkan kembali tendangan bola. Selektivitas dianggap perlu karena salah-salah permusuhan pemikiran dapat berubah menjadi permusuhan pribadi &lt;i&gt;nang hujungnya maulah kada barawaan &lt;/i&gt;atau pecahnya sebuah komunitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Jika tulisan ini hadir sebagai bagian dari permusuhan (semoga ini tulisan terakhir) maka itu cumalah dipicu oleh beberapa penggal kalimat yang muncul pada tulisan Sainul terkini dan terutama tulisan Jarkasi, &lt;i&gt;Sastra Banjar Itu Elastis&lt;/i&gt;. Disadari benar bahwa barangkali tak ada hal baru. Ini sekadar ungkapan kemengertian terhadap pandangan yang lain sekaligus penegasan sikap dari pandangan di seberangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ihwal Dekonsentrasi Sastra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Konsep dekonsentrasi sastra lebih dimaknai dalam kerangka pemakaian bahasa Indonesia, semacam peluruhan “pusat sastra” dan “pemberdayaan” pesastra di daerah yang tidak menulis atau kurang tertampung di media nasional. Dalam bahasa Maman S. Mahayana, konsep sastra nasional tersebut pada ujungnya akan dimaknai sebagai konsep politik, tidak lagi sebagai konsep kultural. Kelak ketika orang berbicara tentang sastra nasional dalam pengertian kultural maka orang harus mengaitkannya dengan persoalan-persoalan lokalitas, menghubungkannya dengan karya sastra yang muncul dan bertebaran di berbagai daerah di Indonesia--yang (tentu saja) media ekspresinya menggunakan bahasa Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Lalu di mana &lt;i&gt;andaknya &lt;/i&gt;sastra daerah? Keberadaan sastra daerah akan amat bergantung pada perhatian masyarakat daerah yang bersangkutan. Dan karena ihwal sastra daerah bukanlah ihwal “yang menyangkut hajat hidup orang banyak”, “solusi pengentasan kemiskinan”, “peningkatan pendapatan asli daerah”, atau jargon lain semacamnya, maka sebuah sastra daerah—sebutlah itu sastra Banjar—berkemungkinan untuk hilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Barangkali di sinilah titik berangkatnya pemikiran Sainul yang kemudian dimakmumi Jarkasi. Sainul nampak lebih konservatif dalam mengantisipasinya, buru-buru menggembrotkan definisi sastra Banjar sebagai upaya untuk tetap mengakomodasi sastra berbahasa Banjar. Kita agaknya layak mengucapkan terima kasih atas atensi “orang asing” ini. Sementara Jarkasi, sebagai “orang dalam” buru-buru pula memakmuminya, bahkan terkesan “subversif” dengan mengatakan bahwa sastra Banjar tidak akan hilang tanpa sastra berbahasa Banjar—dengan kata lain: &lt;i&gt;pangai ha mati bini tuha, ada haja bini anum nang mampilak kaya gadang dikuyak&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Aku menyadari benar dampak dekonsentrasi sastra itu, kemungkinan hilangnya sastra (berbahasa) Banjar itu. Jangankan sastra berbahasa Banjar, bukankah sejak Sumpah Pemuda sudah terbuka kemungkinan bagi hilangnya bahasa daerah karena masyarakat Indonesia menjadi &lt;i&gt;monolingual&lt;/i&gt;, berbahasa Indonesia? Itu sebabnya pada tulisan terdahulu kusodorkan pemikiran untuk memanfaatkan arus dekonsentrasi sastra sebagai upaya meraih kesetaraan antara sastra Banjar dengan sastra Indonesia. Kesetaraan berarti yang satu tidak menafikan yang lain, perhatian terhadap yang satu tidak mengecilkan perhatian terhadap yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sainul agaknya beranggapan bahwa dengan menggembrotkan definisi maka sastra berbahasa Banjar akan serta-merta ikut terangkat. Aku ingin mengingatkan Sainul pada sebuah kasus yang berlangsung di depan matanya. Ketika berlangsung peluncuran buku kumpulan &lt;i&gt;kisdap&lt;/i&gt;nya Jamal, &lt;i&gt;Galuh&lt;/i&gt;, seorang anak SMA dengan polos berucap bahwa ia kurang dapat mengapresiasi &lt;i style=""&gt;kisdap-kisdap&lt;/i&gt; itu karena bahasa Banjar yang dipakai banyak yang tidak dimengerti. Dia kemudian memberikan solusi agar &lt;i style=""&gt;kisdap-kisdap&lt;/i&gt; tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tidakkah ini bisa dijadikan deteksi dini bahwa kesertamertaan itu berkemungkinan besar menjadi nonsens?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Dari contoh kasus itu, pokok soalnya bukan berada pada keengganan mengapresiasi, melainkan pada bahasa. Logikanya, jika sastra Banjar diperkenalkan sejak dini dan intensif, atau lewat langkah programatis lainnya, maka jembatan apresiasi akan terbangun dengan baik. Baiknya bangunan jembatan apresiasi akan menjadikan sastra Banjar berumur panjang. Jadi, belum perlulah buru-buru melakukan perancuan definisi yang riskan itu, sebagaimana belum perlu &lt;i&gt;mancancang &lt;/i&gt;Umberto Eco hanya untuk mengatakan diri sebagai manusia berpendidikan yang berpikiran modern dan mampu menangkap semangat zaman. (&lt;i&gt;Ai, cakada kaya itu pang maksudku. Iya kalu, Mal?&lt;/i&gt;) &lt;i&gt;Ayu sambat intan di luang pandulangan mun handak dipukuli urang sakampungan&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ihwal Rumah Sastra Banjar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ketika republik ini didirikan, sejumlah masyarakat yang maujud ke dalamnya adalah masyarakat yang berbekal sejumlah nilai budaya. &lt;i&gt;Founding fathers &lt;/i&gt;menyadari benar hal itu sehingga melakukan beragam kompromi yang implementasinya akan dipikirkan kemudian. Perkembangan lanjut dari proses mengindonesia itu ternyata tak dapat menghindar dari hegemoni, termasuk soal budaya. Dalam pandangan hegemonik, sastra Indonesia ditempatkan sebagai wacana dominan, dan sastra daerah, sebutlah itu sastra Banjar, sebagai subordinat yang harus diintegrasikan ke dalam wacana dominan tersebut. Lebih jauh lagi, interaksi antara wacana dominan dengan wacana subordinat sebenarnya cumalah interaksi imajiner, sesuatu yang dibayangkan sebagai hal ideal, karena pada kenyataannya sastra Indonesia bukanlah puncak-puncak dari sastra daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Maka rumah sastra Banjar pun berada pada semacam &lt;i&gt;splendid isolation&lt;/i&gt;, isolasi sempurna, yang tidak mengganggu, dan diperlakukan sebagai “bagian yang diperlukan” bagi penampakan sebuah Indonesia yang raya. Jadi keterjepitan rumah itu bukanlah sepenuhnya karena kurangnya perhatian penghuni rumah. Kukatakan bukan sepenuhnya karena seperti di tulisanku dulu &lt;i&gt;bahanu ti sapalihan salah buhan saurang jua&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Ungkapan &lt;i&gt;salah buhan saurang jua &lt;/i&gt;ini didahului oleh kata &lt;i&gt;bahanu&lt;/i&gt; lantaran kesalahan itu kadang justru terbit dari kebenaran. Kebenaran, sebab rumah sastra adalah rumah yang unik. Unik, karena pesastra pada dasarnya adalah insan soliter yang dalam berkarya tidak memerlukan orang lain. Dengan demikian, di rumah sastra itu berkumpul sekian orang dengan tujuan yang sama namun belum tentu mempunyai tujuan bersama. Tujuan yang sama untuk berkarya. Tujuan bersama untuk membenahi rumah, lahan dan habitat. Bukankah sepanjang ada media yang menampung maka seorang pesastra sudah merasa berada di firdaus? Jika tak ada juga media yang menampung, bukankah masih bisa memublisirnya sendiri, entah lewat antologi bersama atau antologi &lt;i&gt;sorangan wae&lt;/i&gt;? Bukankah dulu saat berlangsung kevakuman media penampung, sastra Banjar tetap ditulis, &lt;i&gt;disurung&lt;/i&gt; jadi materi lomba baca “dalam rangka….”, atau diedarkan dari tangan ke tangan, dari satu komunitas ke komunitas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Barangkali keunikan semacam itu bukan kondisi ideal dari sebuah rumah yang dibayangkan Sainul. Barangkali pula memang diperlukan para pengelola dan perawat rumah, para “pemangku adat” semacam Almarhum D. Zauhidhie, Hijaz Yamani dan Yustan Aziddin, orang-orang yang mampu &lt;i&gt;maimpu&lt;/i&gt; penghuni rumah menyaripatikan tujuan yang sama sekaligus tujuan bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Tulisan Jamal, Setia Budi, dan tulisanku tentang keadaan rumah seyogianya dimaknai sebagai ajakan ke arah penyaripatian tersebut, bukan dimaknai sebagai keterasingan (salah-tiga-orang) tuan rumah terhadap rumahnya sendiri atau dijadikan kilah ukuran agnostiknya sastra Banjar. Tapi—seperti kata Sainul—tak apalah karena inilah satu lagi bukti dampak keterbatasan bahasa yang digunakan dan keterbatasan resepsi penerimanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ihwal Habis Surah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Di tulisannya, Sainul juga mengutip puisiku, &lt;i&gt;Lamunan&lt;/i&gt;. Karena puisi dapat multitafsir maka boleh saja Sainul menafsir menurut versinya, sebagaimana boleh saja pula seorang kawan di Kandangan dulu menafsirkannya begini: &lt;i&gt;lamun hujungnya pagun-pagun jua ka Tuhan, kada sarana bahujah hampai tabulangkir kitab-mangikab. Nangapa haja mun hudah hampai ka Allah Taala musti habis surah&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ihwal &lt;i&gt;habis surah &lt;/i&gt;itu sangkut lagi di pikiranku setelah membaca jawaban Sainul terhadap contoh kasus &lt;i&gt;Menolak Panggilan Pulang &lt;/i&gt;Ngarto Februana dan &lt;i&gt;Keluarga Trans &lt;/i&gt;NH. Dini. Keduanya (dan bukan sejumlah novelet Lan Fang yang berlatar budaya Banjar) sengaja kupilih karena berpotensi bermasalah jika dipandang dengan definisi Sainul. Jawabannya adalah: &lt;i&gt;kita lihat dulu bagaimana masyarakat sastra Banjar memposisikan kedua karya tersebut; jika masyarakat Banjar mengiyakan, maka jadilah keduanya sebagai sastra Banjar&lt;/i&gt;. Dalam kalimatku: hal itu tergantung pada masyarakat Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Jika demikian jawabnya maka Fatchul Mu’in tak perlu repot menganalisis (sebagaimana lazimnya insan akademis) &lt;i&gt;Burung-Burung Manyar&lt;/i&gt;-nya Romo Mangun termasuk sastra mana. Novel itu bisa jadi sastra Indonesia, tergantung pada….bisa jadi sastra Belanda, tergantung pada….bisa jadi sastra Inggris, tergantung pada….bisa juga jadi sastra Indonesia, sastra Belanda sekaligus sastra Inggris, jika masyarakat ketiga negara itu menerimanya; dan bisa pula jadi sastra Antah Berantah jika masyarakat ketiga negara tak berkenan menerimanya. Lagi pula, Bung Mu’in, sebutan sastra Indonesia, sastra Inggris, sastra Belanda, itu sesungguhnya salah, harus ada spesifikasi wilayahnya. Sastra Jawa, misalnya, karena &lt;i&gt;BBM &lt;/i&gt;bermuatan Jawa dan diterima masyarakat Jawa. &lt;i&gt;Bukankah ditulis dengan bahasa apa saja asal bermuatan Banjar disebut sastra Banjar, bukan sastra Indonesia&lt;/i&gt;? Begitu saja kok repot!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Yang repot, andai latar tempat berikut kode budayanya tidak jelas atau bahkan fiktif. &lt;i&gt;Mastodon dan Burung Kondor &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Kisah Perjuangan Suku Naga &lt;/i&gt;dari Rendra, misalnya? Novel-novel Iwan Simatupang? Cerpen-cerpen surealis Danarto atau Seno Gumira? Ah, nantilah itu kupikirkan sambil &lt;i&gt;bacacarian &lt;/i&gt;Umberto Eco, &lt;i&gt;kaluai ada di rumah Maman S. Tawie, Tarman Effendy Tarsyad atawa Rifani Djamhari; &lt;/i&gt;di rumah cuma ada Eco yang dipenggal orang semena-mena. Yang penting aku sudah tahu bagaimana elastisnya definisi gembrot itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ada pun ihwal &lt;i&gt;habis surah&lt;/i&gt; adalah jawaban “tergantung pada…” itu tadi. Jawaban itu &lt;i&gt;kada kawa dihual lagi&lt;/i&gt;. Bagaimana sikap Anda jika &lt;i&gt;Menolak Panggilan Pulang &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Keluarga Trans&lt;/i&gt; kita klaim sebagai sastra Banjar? A. menerima. B. menolak. C. tidak tahu. Kirim SMS ke nomor….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Selamat Idul Fitri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Tabusalah sarai sarapun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Unjun di batang umpat batali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Lamun tasalah maminta ampun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Habis surah hampai di sini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 27pt;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kandangan, minggu akhir Oktober&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="IN"&gt; 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-6013363618224099869?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/6013363618224099869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=6013363618224099869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/6013363618224099869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/6013363618224099869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/habis-surah.html' title='HABIS SURAH'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-63837334578640027</id><published>2008-08-23T12:21:00.000-07:00</published><updated>2008-08-23T12:27:57.310-07:00</updated><title type='text'>CATATAN KRITIS MASA DEPAN SASTRA BANJAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma; text-transform: uppercase;" lang="ES"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="ES"&gt;Oleh Prof. Dr. H. Djantera Kawi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Guru Besar Linguistik FKIP UNLAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Memotret perkembangan sastra Banjar dalam khazanah sastra Kalimantan Selatan mutakhir boleh jadi berarti upaya mencari format baru—semacam kebingungan—karena sastra Banjar laras masa lalunya ternyata, menurut sebagian orang, mandul, hanya memberi nuansa estika bahasa tetapi kurang menjembatani pikiran-pikiran baru yang biasanya tertumpahkan dalam karya tulis. Ini mengantar konsekuensi bahwa sastra Banjar jika ditulis dalam wujud demikian, kurang mampu memberi opini, padahal pikiran-pikiran sastra berkembang dan liar. Sebagian orang lagi ingin tetap diakui, bahwa satu-satunya ciri sastra Banjar yang dapat dipertahankan adalah pemakaian bahasa Banjar. Kedua-duanya memang beralasan untuk hadir sebagai karya sastra, tetapi medan perjuangan dua konteks permasalahannya sama-sama sukar untuk disikapi. Kita harus mengakui tidak semua generasi muda Banjar memahami bahasa Banjar, maka sastra Banjar seyogianya dapat ditulis dalam bahasa Indonesia. Alasan yang menonjol berkenaan dengan pernyataan itu adalah selama ini sastra Banjar sangat terbatas ditulis oleh sastrawan Banjar dalam bahasa Banjar. Kedua, sastra Banjar tidak bisa lepas dari media aktualisasinya, yakni terbitan berbahasa Banjar. Sebaliknya, argumen kedua menyatakan sastra Banjar bisa ditulis dalam bahasa Indonesia asal tetap memperhitungkan kode budaya Banjar dalam sastra. Pernyataan ini lebih menginginkan sastra Banjar berbahasa Indonesia dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca yang bukan orang Banjar. Lagi pula, bisa saja sastra Banjar ditulis oleh bukan orang Banjar—karena seseorang sudah memahami betul kode budaya orang Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Dua pemikiran ini saya anggap menarik untuk dicermati. Setidaknya ada dua alasan yang dapat diketengahkan. Pertama, fase perkembangan sastra Banjar memasuki babak baru. Mereka yang terlibat dalam polemik sastra Banjar sebenarnya masing-masing berkeinginan agar sastra Banjar menjadi perhatian siapa saja yang berminat dengan sastra ini. Kedua, bisa jadi polemik ini justru sebaliknya menjadi bahan ejekan untuk sastrawan-sastrawan Banjar sendiri, karena sastra Banjar yang seharusnya ditulis dalam bahasa Banjar, tidak diminati lagi oleh sastrawan Banjar sendiri. Mereka lebih tertarik menulis sastra bahasa Indonesia. Bisa jadi ini karena menulis sastra berbahasa Indonesia lebih mudah untuk mendapatkan duit dibanding sastra berbahasa Banjar. Alasan yang kedua ini cukup beralasan karena selama ini wilayah kebudayaan Banjar, termasuk sastra Banjar, hanya sebagai pelengkap dalam khazanah kebudayaan Banjar. Tidak adanya sastra Banjar juga tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupan kita sehari-hari. Jika dugaan ini benar, maka “kita” sudah sampai pada sikap sangat memperihatinkan terhadap budaya Banjar. Alangkah lemahnya kedudukan dan fungsi sastra Banjar. Nasib budaya Banjar tentu sangat terpuruk. Wajarlah jika ada seniman berpikir lebih baik menulis dalam bahasa Indonesia—lebih dapat dikenal penulisnya—daripada menulis dalam bahasa Banjar. Sudah tidak dapat apa-apa jika menulis dalam bahasa Banjar, juga tidak ada perhatian penguasa yang berkompeten&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memperhatikan persoalan itu, termasuk tidak ada upaya menyikapi ketiadaan media berbahasa Banjar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Kedua laras pengucapan sastra, baik yang berbahasa Banjar maupun berbahasa Indonesia sebenarnya memiliki eksotika masing-masing. Gambaran sastra paling tidak, orang dapat menangkap gambaran kondisi masyarakat zamannya sebagai mana pernah diungkapkan oleh Sutan Takdir Ali Syahbana di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paruh pertengahan 50-an. Ada dinamika yang berkembang antara kekuatan nasional dengan kekuatan lokal. Dinamika itu perlu dicari dalam trend situasi masyarakat dunia yang mengglobal. Di sisi yang sama tatanan global itu sendiri memporak porandakan kekuatan lokal secara tidak terelakkan. Identitas manusia akan semakin sirna, termasuk wilayah-wilayah kebudayaan akan tercerabut dari tanah pijaknya. Artinya manusia akan semakin tidak berciri dan tidak punya pegangan.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;         Tidak berciri intelektual pula jika orang memposisikan sastra bahasa Banjar berbahasa Indonesia sebagai musuh, sebab bahasa Banjar atau bahasa Indonesia hanya sebagai instrumen pengungkapan dari sikap formal sastrawi. Yang lebih penting dari semua itu adalah menulis dan menulis. Kedua pikiran yang berseberangan tidak perlu saling memagari diri untuk tidak saling menjenguk wilayah-wilayah yang lebih urgen di antara keduanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;           Sistem kepengarangan sastra Banjar, sadar atau tidak, adalah sesuatu yang belum terbentuk. &lt;i&gt;File&lt;/i&gt; kita tidak mencatat hal-hal yang berkaitan dengan sistem penulisan, sistem pembaca, sistem kritik, sistem apresiasi, sistem publikasi. Ini yang mengakibatkan semakin hari sastra Banjar semakin terdesak oleh deraan kebudayaan modern. Sastra Indonesia sendiri bukan musuh utamanya, sastra Indonesia cenderung memompa udara sendiri agar bisa bernafas hidup. Yang menjadi pengaruh besarnya adalah budaya global yang semakin mendesak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Mari kita geledah akar dari kebinggungan kalangan penulis sastra Banjar dengan melacaknya dari dua pendekatan utama yang berkembang yaitu budaya lisan dan tradisi lisan. Sadar atau tidak, Banjar terlalu lama dipengaruhi oleh budaya lisan. Budaya lisan telah melahirkan tradisi-tradisi lisan lain yang berurat berakar tidak saja bagi keperluan tradisi tulis tetapi juga lambannya kebangkitan tradisi ilmu pengetahuan. Tradisi penalaran tidak akan berkembang baik selama tradisi lisan tidak berpindah kepada tradisi tulis. Kita hendaknya dapat memposisikan kelisanan secara proporsional. Sastra yang dilisankan memang aktualisasinya dengan cara lisan, sebutlah misalnya &lt;i&gt;lamut&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;madihin &lt;/i&gt;tapi&lt;i&gt; &lt;/i&gt;sastra yang tradisi pengembangannya secara tertulis tidak semestinya dilakukan secara lisan, sebutlah di antara itu adalah puisi, prosa, syair, dan karya-karya drama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-63837334578640027?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/63837334578640027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=63837334578640027' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/63837334578640027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/63837334578640027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/catatan-kritis-masa-depan-sastra-banjar.html' title='CATATAN KRITIS MASA DEPAN SASTRA BANJAR'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-5805944145424244208</id><published>2008-08-19T12:09:00.001-07:00</published><updated>2008-08-19T12:17:01.427-07:00</updated><title type='text'>SASTRA BANJAR ITU HARUS TERUS ADA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Syarifuddin R&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;Penelusuran dan pencarian identitas sastra Banjar yang telah digaungkan sungguh menarik untuk dicermati.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari ragam penyiasatan yang diutarakan para penulis yang terlibat di dalamnya memberikan peluang untuk dibahas dan dikritisi kembali. Walaupun sesunggguhnya berbeda pendapat bukanlah tradisi yang kuat berakar dalam kehidupan keseharian masyarakat kita. Sebab sudah menjadi kebiasaan yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terpola bahwa apa yang dikatakan orang tua, sesepuh atau senior harus diterjemahkan sebagai pendapat yang terbaik. Setiap nafas dan suara yang membalut pendapat&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;sesepuh atau yang dituakan dalam tradisi itu senantiasa memiliki cap kebenaran yang tak terbantahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Kenyataan yang masih berlaku dalam masyarakat tersebut telah menutup ruang untuk mendebat, karena berbeda pendapat berarti identik dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membantah dan percekcokan. Sementara tuntutan kekinian untuk mendapatkan kebenaran dalam pengetahuan justru harus membuka ruang perbedaan pendapat. Peran orang tua, sesepuh atau senior itu dalam bidang keilmuan kurang lebih sama dengan pakar atau ahli tertentu sesuai disiplin ilmunya. Bedanya dalam hal polemik para pakar umumnya memandangnya sebagai sesuatu yang biasa dan bahkan harus selalu dibangun agar tercipta ruang berpikir yang sehat dan variatif. Para pakar meyakini polemik selain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mampu membuka cakrawala berpikir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga menjadikan kepakaran mereka semakin terkenal. Sedangkan orang tua atau sesepuh selalu menempatkan pendapatnya adalah yang terbaik dan harus bisa diterima, karena jika ada yang mempermasalahkannya berarti telah menurunkan wibawanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Dalam tradisi perdebatan seakan hanya boleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terjadi untuk mereka yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang setara. Pada tataran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sederajat tersebut mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dianggap memiliki otoritas berpendapat yang sama. Sehingga kekuatan dalam menentukan kebenaran atau yang paling berterima sangat tergantung pada argumentasi yang dikemukakan. Namun sering pula terjadi polemik terputus (tidak tuntas) manakala muncul kekuatan tradisi yang telah menganggap diri sendiri lebih mengetahui atau lebih berpengalaman.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kemungkinan lain kalaupun polemik dilayani, kesan dan isinya hanya untuk melecehkan. Kekuatan tradisi yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengagungkan diri sendiri seperti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;lebih mengetahui&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;lebih berpengalaman&lt;/i&gt; telah menghambat jalan bertukar pikir. Dengan keagungan diri sendiri itu, maka mudah melahirkan ungkapan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;baru seumur jagung,&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;masih bau kencur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;atau &lt;i style=""&gt;hanyar pacah dihintalu &lt;/i&gt;yang tidak lain dimaksudkan untuk meremehkan pendapat pihak lain. Namun sebaliknya tradisi juga mengajarkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada seseorang untuk bersikap rendah hati. Tapi sikap rendah hati sering pula diusung secara berlebihan, sehingga kesannya tetap keangkuhan diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Pengemasan argumentasi yang dicuatkan dalam aneka ragam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tulisan kreatif menjadikan polemik sastra Banjar memiliki kekuatan bertahan. Dengan keunikan ragam pendapat yang dimunculkan dapat melenyapkan kebuntuan dan tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meyebabkan pencarian identitas terhalang. Bahkan dari polemik sastra Banjar yang berkembang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah menunjukkan kemampuan melintasi tradisi, sehingga dapat menerima dan memahami perbedaan pendapat. Cara berpikir dan bersikap berbeda dengan tradisi juga merupakan buah perkembangan kesusastraan itu sendiri.&lt;span style=""&gt;                                                                                                                                   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Berdasarkan pencermatan pada kesusasteraan di Indonesia yang memperlihatkan berbagai ragam bahasa dan kebudayaan yang ada di dalamnya, seperti tercermin pada sebagian besar karya yang dihasilkan. Pengertian kesusasteraan di sini, tentu tidaklah mungkin mengabaikan keberadaan sastra lisannya. Dengan memahami dan memaknai keberadaan sastra lisan yang hidup dan berkembang,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;mendekatkan kita kepada titik pencarian yang dikehendaki. Karena baik dilihat secara sempit dari sudut sastra maupun yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lebih luas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kebudayaan, sastra lisan merupakan cikal bakal dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perkembangan sastra tertulis. Kemudian dilihat dari sudut kebudayaan, sastra lisan berawal pada pengucapan yang langsung dari jiwa rakyat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang merupakan bagian lapisan bawah masyarakat. Sehingga penyebutan identitas di belakang kata sastra lisan senantiasa terkait dengan manusia atau orang yang memiliki kebudayaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dengan mengacu pada keberadaan sastra lisan (Banjar) yang lebih dulu ada, mestinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penyebutan sastra Banjar tidak perlu menanggung beban yang berat dan rumit. Dari beberapa argumentasi yang dikemukakan dalam polemik sebenarnya telah menjawab keraguan tentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keberadaan dan identitas sastra Banjar. Sumber tertulis yang berasal dari sastra lama dan sastra lisan Banjar, telah pula dimiliki dan terekam dalam beberapa buku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Jika kita kaji&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sastra lisan Banjar yang dimuat dalam &lt;i style=""&gt;Anthology of Asean Literatures Oral Literature of Indonesia &lt;/i&gt;(Bunga Rampai Sastra-Sastra Asean, Sastra Lisan Indonesia)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang diterbitkan The ASEAN Committee on Culture and Information, (1983) tentu tidak terlepas dari orang dan kebudayaannya. Sastra lisan yang dimuat dalam buku tersebut bukan hanya pantun, tetapi juga ceritera rakyat yang dikembangkan berdasarkan bahasa tertulis dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggunakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahasa daerah (Banjar) dan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Karya Anggaraini Antemas (Yusni Antemas) yang berjudul &lt;i style=""&gt;Kehancuran di Baruh Kelayar &lt;/i&gt;yang mengangkat latar belakang budaya daerah dan telah diterbitkan Balai Pustaka melalui Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah (1980), memang tergolong sastra lama karena diangkat dari &lt;i style=""&gt;folklore&lt;/i&gt;. Tetapi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; bahasa dan ungkapan yang digunakan untuk menuliskan tujuh pragmen/episode telah ditulis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti ceritera bersambung atau novelet yang menarik untuk dibaca. Seandainya pembaca buku &lt;i style=""&gt;Kehancuran&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;di Baruh Kelayar&lt;/i&gt; tidak diberi penjelasan tentang isi buku tersebut berasal dari ceritera rakyat dan tergolong sastra lama, mungkin saja disebut karya sastra Banjar modern.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;Penyiasatan kita untuk mengetahui, memahami atau mempercayai sesuatu bisa dilakukan dengan bercermin pada pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh. Penelusuran pada teks kajian yang sering dijadikan acuan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengharuskan seseorang menimbang-nimbang fakta ilmu berdasarkan bahan rujukan yang pernah ada. Tetapi ukuran keberadaan sastra Banjar tidak hanya dilihat dari berapa banyak yang telah ditulis dan siapa saja penulisnya. Sebab walaupun ada naskah-naskah sastra Banjar modern yang ditulis, namun pertanyaannya siapa atau instansi mana pula yang berkenan menerbitkannya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Menyikapi persoalan bagaimana sesungguhnya sastra Banjar itu, kita dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beranalogi dengan pendapat Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo tentang sastra Indonesia. Menurutnya sastra Indonesia itu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak hanya berbahasa Indonesia saja. Sastra Indonesia itu juga ada yang berbahasa Jawa, berbahasa Sunda, Berbahasa Inggeris, Berbahasa Belanda. Segi terpentingnya adalah penulisnya orang Indonesia, juga pakai idiom-idiom Indonesia, dan berlatar budaya Indonesia (berita buku no.62 tahun VIII Agustus l996). Jadi, kalau kita menggunakan analogi pendapat Suripan Sadi Hutomo tersebut, maka yang disebut sastra Banjar itu tidak hanya berbahasa Banjar saja. Sastra Banjar itu juga ada yang berbahasa Dayak, berbahasa Jawa, berbahasa Sunda, berbahasa Indonesia, berbahasa Inggeris atau berbahasa Belanda. Sudut pandang utamanya adalah penulisnya orang Banjar,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pakai idiom-idiom Banjar dan berlatar budaya Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Jika Suripan Sadi Hutomo mengatakan bahasa bukan ciri utama dalam menentukan identitas sastra dapat kita pahami. Karena bahasa lebih berfungsi sebagai media penyampai pesan, bukan pesan itu sendiri. Mungkin pula kita bisa mencari alasan yang lain dengan beranalogi pada materi lain, misalnya tentang apa yang disebut sejarah Banjar. Meskipun bahasa yang digunakan untuk menulis sejarah Banjar adalah bahasa Belanda, tetaplah tidak mengurangi arti sejarah Banjar tersebut. Seyogianya kalau sastra Banjar tidak ditulis dengan bahasa Banjar, namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;idiom-idiom Banjar dan latar budaya Banjar merasuk dalam karya yang dihasilkan, apalagi ditambah penulisnya orang Banjar tetap dapat disebut sastra Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Perkara mengapa karya-karya yang menggunakan idiom-idiom daerah/negara oleh pengarang Indonesia tidak serta merta disebut sastra daerah/negara tertentu, pasalnya sangat terkait dengan tujuan penulisannya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Namun dalam konteks polemik yang terjadi sebenarnya kita lebih memerlukan orang-orang yang memiliki jiwa penyelamat untuk kesinambungan sastra Banjar agar terus ada dan terjaga. Perhatian dan kepedulian pada sastra Banjar harus terus diupayakan, jangan sampai kita tetap berada dalam alam tradisi lisan, karena tidak ada yang mau dan mampu menuliskannya.&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Terlepas dari persoalan mana yang paling tepat dan benar, sesungguhnya pedebatan sastra Banjar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah membuka cakrawala berpikir lebih luas. Layar boleh saja ditutup, karena untuk episode ini telah habis. Polemik boleh berlalu, namun semua argumentasi telah terhimpun dalam buku. Tapi besok atau kapanpun kita buka lagi polemik baru dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semangat menggebu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-5805944145424244208?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/5805944145424244208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=5805944145424244208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/5805944145424244208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/5805944145424244208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/sastra-banjar-itu-harus-terus-ada.html' title='SASTRA BANJAR ITU HARUS TERUS ADA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-4442785109712917449</id><published>2008-08-19T12:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T12:09:29.788-07:00</updated><title type='text'>SASTRA BANJAR, NGALIH BANAR</title><content type='html'>&lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Oleh Sainul Hermawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik kalau kita membaca esai Jamal T. Suryanata, “Senyum Nurdin dan Sastra Banjar”. Sebuah esai bergaya &lt;i&gt;cung parahu, siapa kana kada tahu&lt;/i&gt;. Konon gaya retorika semacam ini bermakna serius sekaligus main-main. Serius karena isu itu dilemparkan kepada sesuatu yang berpotensi membentur segala sesuatu di sekitarnya. Main-main karena ada semacam &lt;i&gt;ignorance&lt;/i&gt;, ketakacuhan, dan tak mau menanggung akibatnya jika yang terkena lemparan itu “sakit”. Dengan kata lain, esai ini sudah sejak awal pasang kuda-kuda kultural yang mapan dengan secara tidak langsung ingin mengatakan: jangan &lt;i&gt;sarik&lt;/i&gt;, ini hanya main-main. Atau, konon, dengan cara demikian, penulisnya menyadari adanya sesuatu yang mungkin keliru, karenanya sejak awal dia perlu mengakhiri tulisannya dengan &lt;i&gt;cung&lt;/i&gt;..., dalam pengertian, “maaflah kalau aku salah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;, dia risau, resah, dan gelisah melihat proses alienasi yang sedang berlangsung di kalangan generasi muda Banjar terhadap realitas budaya dan kearifan lokal mereka. Alienasi itu antara lain, menurut Jamal, diakibatkan oleh gempuran dahsyat budaya Barat dengan beragam variannya yang menggoda hasrat gaya hidup baru (&lt;i&gt;new life style&lt;/i&gt;). Di samping itu budaya selebritis Jakarta (budaya nasional?) yang menyusup samar-samar masuk ke rumah-rumah orang Banjar melalui kotak ajaib yang bernama TV juga, oleh penulis &lt;i&gt;sakindit kisdap Banjar&lt;/i&gt; ini, dianggap sebagai faktor lain yang ikut mengikis identitas “kebanjaran” orang Banjar (lihat paragraf ke-2 dan ke-3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mencurigai atau menyalahkan orang/budaya lain (Barat, Jakarta) semacam ini adalah sikap klise yang sering didengungkan dengan menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya rumit. Ada nuansa sikap pembenaran diri sendiri, penyederhanaan Barat atau Jakarta secara negatif, dan lupa bahwa potensi sikap kultural yang buruk sebenarnya juga berakar di sini. Kompleksitas bagaimana beragam pikiran orang Banjar menyerap, menerjemahkan, budaya luar agak kurang dihiraukan. Bukankah apa yang ada di segala sektor kehidupan orang Banjar dulu, kini, dan esok tidak sepenuhnya berasal dari Banjar? Tidak wajarkah ini sebagai proses silang budaya? Banjar belajar Barat dan Barat belajar Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;, salah satu pihak yang pantas dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab atas perlindungan budaya, terutama dalam hal cagar alam sastranya adalah lembaga pendidikan yang telah mengikrarkan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang memberikan perhatian terhadap keberadaan bahasa dan sastra Indonesia dan daerah. Sayangnya, menurut narator imajiner dalam esai Jamal (yang bisa saja dibaca sebagai representasi suara penulis esai itu sendiri), kajian sastra Banjar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PS PBSID) yang ada di Banjar kurang mendalam dan terkesan sebagai disiplin tempelan belaka. Secara paradigmatik, kritik ini sangat jelas diarahkan oleh penulisnya ke almamaternya, di mana si penulis secara intens pernah mengkaji sastra Banjar dan menghasilkan tesis yang relatif monumental, berjudul&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Cerpen Banjar 1980-2000, Tinjauan Struktur, Isi dan Konteks Sosialnya.&lt;/i&gt; Menurut narator dalam esai Jamal, skripsi sastra si perpustakaan PS-nya, masih didominasi oleh kajian sastra Indonesia. Jamal (atau naratornya?) meninggalkan pertanyaan bagi kita: ketika sastra Banjar tak diminati mahasiswa, apa atau siapa yang salah, sastra Banjar, mahasiswa, dosennya atau pertanyaan yang semacam ini? (lihat paragraf ke-5).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Tidak ada yang patut disalahkan. Perkembangan minat dan perhatian terhadap sastra Banjar akan turut ditentukan waktu. Lagi pula posisi sastra daerah dalam PS PBSID tidak bermakna lokal tetapi sangat nasional. Artinya, mahasiswa dari daerah-daerah lain di Indonesia dapat mempelajari sastra Banjar, sastra daerahnya sendiri, ataupun sastra daerah lain di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;, ada kritik pedas bagi karya sastra yang ditulis oleh mahasiswa di Banjar. Mungkin dia merespons beberapa cerpen KCPM 2005 yang sempat hadir di &lt;i&gt;Cakrawala&lt;/i&gt; setiap Minggu. Mungkin juga tidak. Menurutnya, cerpen karya mahasiswa itu jelek dan menggelikan. Tetapi dia harus tetap bersikap apresiatif agar generasi penerus tradisi sastra Banjar tak berkecil hati dan berhenti berkreasi (lihat paragraf ke-7). Tetapi, dalam logika tulisan &lt;i&gt;cung parahu&lt;/i&gt;, kritik seacam itu tidak semata ditujukan kepada karya mahasiswa yang jelek, tetapi juga dilemparkan kepada karya sastrawan Banjar yang kualitas tulisannya masih setaraf dengan karya mahasiswa. Anjuran baiknya, siapapun sastrawan itu, jika ingin karyanya dibaca dan berbobot, harus banyak membaca karya-karya sastra dunia. Pendeknya, seniman tak boleh &lt;i&gt;koler&lt;/i&gt; dan arogan (puas dengan apa yang telah dicapainya di situ-situ saja).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;, dia mengaku punya serangkaian kiat untuk menulis sastra Banjar yang berbobot. Menurutnya, dalam kiatnya, sastra Banjar yang baik harus ditulis dalam bahasa Banjar yang baik, dalam pengertian bahasa Banjar yang kaya, variatif, kontemplatif, berwawasan, dan sebagainya, dan seterusnya. Dengan kata lain dia ingin mengatakan, sastrawan Banjar jangan sampai &lt;i&gt;koler&lt;/i&gt; membaca jika karyanya ingin bermakna dalam, bermutu tinggi, dan akhirnya mampu menstimulasi minat pembaca, dan sekaligus penelitian sastra Banjar (lihat paragraf ke-8).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Dari keempat kesimpulan yang dapat saya catat ini, ada satu generalisasi utama yang agak gegabah dalam mendefinisikan sastra Banjar jika yang dimaksud oleh esai itu hanya sastra yang ditulis dalam bahasa Banjar. Esai Jamal tersebut tampaknya mampu melepaskan penulisnya dari kegalauan ketika dia harus mencoba mendefinisikan sastra Banjar untuk kepentingan akademik yang pernah dilaluinya. Mengapa tiba-tiba dia berbalik arah dan dengan mantap mengatakan bahwa bahasa Banjarlah identitas utama sastra Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Keyakinan ini jelas mengeksklusi, menyingkirkan, sekelompok karya sastra yang ditulis oleh sastrawan Banjar dalam bahasa Indonesia. Asumsi teoretis ini mengingkari pengetahuan penulisnya sendiri tentang kompleksitas pendefinisian sastra Banjar seperti pernah dia tuliskan dalam tesisnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam tesisnya dia mengakui bahwa ada tiga kategori yang dapat digunakan untuk mendefinisikan sastra dalam hubungannya dengan persoalan hakikat identitasnya (seperti kategori bahasa, kewarganegaraan, dan orientasi sosiokultural). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ketiganya merupakan realitas rumit yang saling terkait dan tidak bisa berdiri sendiri. Artinya, hakikat sastra Banjar tak semata dapat ditentukan secara mati dan pasti oleh faktor bahasanya saja, seperti halnya sinetron atau film yang berbahasa Indonesia tidak serta merta dapat dianggap sebagai karya sinema Indonesia. Penonton paling awam pun akan menolak menyebut film India sebagai film Indonesia meski seluruh tokoh dalam film itu telah mahir berbahasa Indonesia berkat jasa &lt;i&gt;dubber&lt;/i&gt; (juru sulih suara). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Mengapa bisa demikian? Karena penonton bukan realitas pasif. Penonton pun punya pikiran aktif yang mampu mengidentifikasi ciri-ciri visual yang mereka tangkap sebagai bukan bagian dari realitas visual lokal mereka. Bahkan masih terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan lain untuk menggagas kategori lain dalam memahami definisi sastra Banjar demi kepentingan praktis tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Demikian pula dalam mendefiniskan sastra Banjar. Karya sastra berbahasa Banjar juga memiliki peluang untuk disebut bukan sebagai sastra Banjar. Seperti halnya Jamal mengatakan bahwa Si Palui itu bukan sastra Banjar karena ia hanyalah pembanjaran cerita dalam bahasa Indonesia. Pelajaran tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi definisi sastra yang memang selalu berpotensi kabur dapat kita baca melalui penelitian George Quinn (1992) ketika dia meneliti novel berbahasa Jawa dalam disertasinya yang berjudul &lt;i&gt;The Novel in Javanese&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Dalam seluruh uraiannya dia sama sekali tidak berani menyebut novel-novel yang ditelitinya sebagai novel Jawa, tetapi dengan penuh kehati-hatian dia menyebut novel-novel tersebut dengan istilah the &lt;i&gt;novel in Javanese&lt;/i&gt; atau novel berbahasa Jawa. Untuk konsumsi pembaca koran, mungkin tidak ada bahaya sama sekali jika istilah sastra Banjar yang agak semena-mena itu ditawarkan. Tetapi, untuk penggunaan akademik, Quinn telah memberikan teladan agar jangan terlalu mudah menyimplifikasi persoalan yang sebenarnya rumit sebelum segala aspek evaluatif mengenai sastra Banjar yang sesungguhnya dipaparkan secara lengkap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sebenarnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sudah lama Terry Eagleton (dalam &lt;i&gt;Literary Theory, An Introduction,&lt;/i&gt; 1988: 5-7) menjelaskan betapa rapuhnya jika kita mendefinisikan sastra dengan berlandaskan pada faktor bahasa semata. Secara metaforik, cara mendefinisikan sastra Banjar yang dilandaskan pada bahasa dapat dianalogikan dengan upaya mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sastra dan bukan sastra yang &lt;i&gt;ngalih banar&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Eagleton menyimpulkan bahwa faktor &lt;i&gt;bahasa sastra yang khas&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;bahasa keseharian yang biasa&lt;/i&gt; adalah konsep yang bermasalah karena bahasa biasa yang dimaksud di sini diposisikan sebagai entitas homogen sehingga apa yang dianggap biasa menjadi ilusi. Batas antara bahasa yang biasa dan yang khas sebenarnya juga kabur karena bahasa sesungguhnya terdiri atas beragam variasi dan wacana, mengikuti keberagaman kelas sosial, daerah, dan jenis kelamin (Eagleton, 5-7). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kenyataan semacam ini pun akan dihadapi oleh sastra Banjar. Penghuni sastra Banjar itu juga tidak sehomogen yang dibayangkan Jamal. Dalam konstelasi pemahaman sastra sebagai realitas bersama, pembaca yang aktif juga punya peran otoritatif untuk menyebut karya sastra yang seperti apa di banua ini yang layak disebut sebagai sastra Banjar. Dalam esainya Jamal telah memainkan peran otoritatifnya sebagai penulis yang relatif terkenal dan ingin mengidentikkan sastra Banjar dengan bahasa Banjar. Jika dipaksakan demikian, sastra Banjar menjadi rumah yang sangat eksklusif dan &lt;i&gt;ngalih banar&lt;/i&gt; dimasuki oleh karya sastra berorientasi sosiokultural Banjar dan ditulis oleh warga Banjar dalam bahasa Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-4442785109712917449?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/4442785109712917449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=4442785109712917449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/4442785109712917449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/4442785109712917449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/sastra-banjar-ngalih-banar.html' title='SASTRA BANJAR, NGALIH BANAR'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-7567837385321853797</id><published>2008-08-19T12:01:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T12:05:01.352-07:00</updated><title type='text'>MEMBUANG RASA KAGUM TERHADAP SASTRA BANJAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoTitle" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="PT-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="PT-BR"&gt;Obrolan Sambil Lalu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Oleh Setia Budhi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tak merasa terlalu penting untuk mengulas, menganalisis, menjelaskan sampai &lt;i style=""&gt;tajungkir tasumbalit&lt;/i&gt; apakah sastra Banjar itu ada atau tiada, apakah sastra Banjar itu diakui atau tidak diakui atau apakah sastra Banjar itu dikenal atau tidak dikenal. Sebab bagiku perdebatan itu memang perlu, tetapi aku tiada daya dan upaya melakukannya dikarenakan “ngelmu kebathinanku’ tak cukup untuk itu. Daripada &lt;i style=""&gt;mambuang liur basi&lt;/i&gt;, lebih baik aku menulis saja apa-apa yang didepan perlu dilakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang guru bahasa dan sastra di pelosok kampung dengan geram sekali mengulas di &lt;i style=""&gt;Radar Banjarmasin&lt;/i&gt; perihal spiritualitas dan modernitas sastra Banjar, sementara musuh &lt;i style=""&gt;babuyutannya&lt;/i&gt; adalah seorang di negeri angin yang dengan gagah perkasanya menyoal ketandusan, kegersangan dan kehampaan sastra di komunitas yang bernama Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apakah yang kita maksud dengan dunia sastra sebenarnya adalah semacam dunia panggung yang berkuasa. Kalau sastra tak berpangung, maka kita kemudian menafikannya dan kalau sastra itu sepi, tidak laris, diam dan lampus maka kita tak mengakuinya sebagai sebuah dunia sastra dan seni. Apakah sastra dan seni merupakan dunia pentas dalam panggung yang hiruk pikuk dalam macam perselingkuhannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jikalau karya sastra yang dianggap sebagai ekspresi kejiwaan dan persepsi terbuka dari apa yang terselubung dalam impresi estetika, mempunyai tugas apa yang berkecamuk dalam diri manusia dan dalam alam semesta. Lalu, di manakah ekspresi sastra Banjar kita temukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Orang gila pernah berkata, “Tidak seorang juapun seniman dapat menerima kenyataan”, oleh sebab seniman tidak mau menerima kenyataan maka beliau kemudian membuat kenyataan lain: Sebuah kenyataan yang dianggapnya lebih baik, lebih indah, lebih menjadi, bermakna, bermoral&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan lebih ber-Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sastra Banjar adalah kenyataan dari hasil karya yang akrab seperti ditemukan dalam pentun, puisi, hikayat maupun mantra-mantra para pedukunan, tetapi juga sebagai sesuatu yang asing. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karya sastra Banjar yang asing karena ternyata dunia lain seperti yang terdapat dalam karya seni sama sekali tidak dapat dijalani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apakah cerita dalam &lt;i style=""&gt;Hikayat Banjar&lt;/i&gt; ada dalam dunia nyata? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berkali-kali aku membaca &lt;i style=""&gt;Syair Siti Zubaidah&lt;/i&gt;, lalu berkali-kali juga aku berkata, ”Seandainya saja, ada pemimpin yang adil bijaksana di Banua Banjar sebagaimana Syair Siti Zubaidah, tentulah aku akan merasa bahagia dunia akhirat”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagiku apakah cerita &lt;i style=""&gt;Hikayat Banjar&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;Syair Siti Zubaidah&lt;/i&gt; yang dapat dikategorikan sebagai karya sastra yang istimewa tentang sebuah dunia imajinasi ataupun realitas yang menjadi terimajinasikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bahwa kesetiaan terhadap sebuah karya sastra Banjar yang diperlihatkan oleh seorang guru bahasa dan sastra di pelosok negeri patutlah diberi apresiasi, tetapi bahwa kemampuan untuk membuang rasa kagum terhadap sastra Banjar oleh orang-orang kota dapat dilihat sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;teropong memandang sastra Banjar sebagai sesuatu yang asing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mencairkan sastra Banjar sebagai karya mungkin tidak mengharuskan karya itu dihasilkan oleh seorang seniman besar semacam Ronggowarsito atau Raja Ali Haji atau Sultan Adam, sebab seseorang yang tidak makan sekolahan pun juga melahirkan karya-karya besar dalam zamannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seorang Balian di daerah pedalaman Kalimantan telah melahirkan sastra begitu juga seorang dukun telah melahirkan sastra melalui mantra-mantra yang diingat, ditulis dan dibacakannya. Bukankah, kalau begitu mantra-mantra urang Banjar adalah sastra Banjar juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tibalah, tulisan ini dengan sejumlah pertanyaan untuk dalam apa yang disebut Seno Gumira Ajidarma sebagai Obrolah Sambil Lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Bahwa sayang sekali sastra Banjar yang kalau mau dikategorikan (sekali lagi kalau memang mau) mulai dari sastra Banjar klasik, sastra Banjar zaman kolonial, sastra Banjar pasca kolonial, sastra Banjar modern, sastra Banjar Posmodern, sastra Banjar Kiri, sastra Banjar Kanan, Sastra Banjar Religius, Sastra Banjar Anti Tuhan, Sastra Mantra Banjar, Sastra karya seniman dan bukan seniman, sastra Banjar karya Sang Balian, Karya Sang Pedukunan dan Para Dalang, Karungut, Andi-Andi, Syair Baayun Anak, Syair Mamanda. Sastra Banjar yang dibuat zaman Pergerakan, zaman Pangeran Antasasi, zaman Ibnu Hajar, zaman Ngayao, Zaman hulu balang, zaman krisis ekonomi atau zaman merdeka adalah sederatan sastra-sastra yang menanggung beban pada sejarahnya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sastra Banjar kategori fungsional, Sastra Banjar kategori struktural, Sastra Banjar Filsafat, pesan-pesan moral. Sastra Banjar picisan dan entah banyak lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku berpikir, manakah karya-karya sastra yang itu kita perdebatkan dalam silang pendapat dalam silang sengkarutnya? Sebab dengan ketiadaan sumber-sumber perdebatan maka yang akan terjadi adalah sebuah kehampaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kembali ke asal muasal Obrolan Sambil Lalu ini, adalah tugas paling mulia di hadapan waktu yang terbentang untuk kemudian bergerak bekerja pada sebuah pertanyaan sederhana ”Di manakah rumah sastra Banjar yang kita kagumi?” Kepada siapakah menyatukan raga dalam sattra Banjar yang semesta, apakah kepada kesunyian ataukah kepada keabadiannya ataukah kepada dunia hari ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku menyukai perdebatan antara orang-orang pedalaman dengan orang-orang kota sebab di antara keduanya telah membuat sastra Banjar kita menjadi bangkit dari liang kuburnya. Itu sebabnya aku nyaris pingsan ketika membaca Sanusi Pane dalam &lt;i style=""&gt;Kesunyian Malam Waktu&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dibawa Gelombang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sanusi Pane&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alun membawa bidukku perlahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kesunyian malam waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tidak berpawang, tidak berkawan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Entah ke mana aku ta’tahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jauh diatas bintang kemilau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti sudah berabad-abad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan damai mereka meninjau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kehidupan bumi, yang kecil amat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku bernyanyi dengan suara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seperti bisikan di daun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suaraku hilang dalam udara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam laut yang beralun-alun &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alun membawa bidukku perlahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kesunyian malam waktu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tidak berpawang, tidak berkawan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Entah ke mana aku ta’tahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kuala Lumpur, 16 September 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-7567837385321853797?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/7567837385321853797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=7567837385321853797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/7567837385321853797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/7567837385321853797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/membuang-rasa-kagum-terhadap-sastra.html' title='MEMBUANG RASA KAGUM TERHADAP SASTRA BANJAR'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-3145657631696460503</id><published>2008-08-19T11:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T12:00:39.817-07:00</updated><title type='text'>STRATEGI SASTRA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-weight: normal; font-style: normal;" lang="IN"&gt;Oleh Jarkasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Tidak ada yang merasa jungkir balik dalam satu perdebatan intelektual. Namun tidak tahu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt; pasti, mungkin juga ada yang merasa berada di jalan buntu. Bagi saya itu sah-sah saja. Justru yang tidak bisa keluar dari sana yang merasa perlu memahami cara berpikir orang dan membuka lembaran baru bahwa ada orang berbeda dengan pikiran Anda tersebut. Yang merasa ada jalan buntu itu harus mencari jalan, ‘kan begitu? Kalau saya, ya… banyak pintu masuknya, jadi tidak sedikit pun merasa jungkir baik atau merasa di jalan buntu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Ada yang menyatakan sastra Banjar itu hidup sampai sekarang. Lalu, yang menjadi rujukannya adalah satu-dua cerpen yang ditulis dalam gaya modern dan atau puisi yang ditulis dalam bahasa Banjar. Tetapi, apa yang ditulis orang dalam bentuk masa lalunya sama sekali beda. Dalam pemahaman saya, sastra Banjar itu ya…syair, ya… pantun. Jadi apa yang tulis dengan cara penulisan cerita bergaya baru, itu &lt;i style=""&gt;sih&lt;/i&gt; sama sekali belum sastra Banjar. Sebab sastra Banjar itu terkait kode budaya Banjar. Jika yang ditulis orang dengan bahasa Banjar, lalu orang menamakannya puisi Banjar, ya itu &lt;i style=""&gt;sakahandak Andika&lt;/i&gt;. Orang yang berpikir ke arah itu tidak seperti itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Akan halnya telah ditemukan dalam buku hasil tulisan saya yang menyatakan bahwa, beberapa cerpen yang saya rujuk dalam tulisan itu adalah cerpen Banjar modern dinyatakan telah keliru betul saja sudah. Dari dulu saya sudah ragu-ragu mau mengatakan apa dengan bentuk itu. Mau mengatakan itu cerpen Banjar, tapi tidak ada sejarahnya dalam sastra Banjar. Sebaliknya mengatakan itu modern mungkin lebih mendekati kebenaran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagi saya, jika sesuatu itu dipikirkan dan dapat diwujudkan dalam kaca mata rasional relevan, ya… yang lama kita tinggalkan. Dalam kerangka berpikir seperti ini tidak ada istilah bertahan dengan prinsip yang kita buat sendiri. Karena itu, jika tulisan saya pertama dipatahkan oleh pendapat berikutnya itu bisa saja terjadi. Masa saya harus mempertahankan dengan pikiran semula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Orang yang memahami makna pragmatisme dalam kerangka berpikir ilmiah—hari ini begini, besok kita tidak bisa mengikuti karena telah ditemukan data-data baru—itu biasa. Bukankah kebenaran ilmu itu bersifat pragmatis? Lagi pula buku saya itu bukan dogma dan bukan agama. Makanya dari awal saya sangat meyakini kebenaran ilmu bersifat sementara, ia bergerak liar. Jika ada orang menyitir pendapat itu dan mengemukakan, bahkan mempertanyakannya, ya… kembali saja pada pikirannya, ya… jika ini bersinggungan maka berarti benar. Bukan kita &lt;i style=""&gt;mengarasi&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;nang salah.&lt;/i&gt; Sulitnya, jika orang &lt;i style=""&gt;takarasi&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;buyang mati, bah maju tarus pantang mundur&lt;/i&gt;. Kalau selama itu orang bisa berargumen secara santun, ya… kita ikuti…. Kalau orang tidak bisa diajak berkomunikasi, ya… &lt;i&gt;good bye my love.&lt;/i&gt; Artinya, kebiasaan kita berpikir ilmu belum dipakai orang, &lt;i style=""&gt;nunggu &lt;/i&gt;dua-tiga tahun lagi, &lt;i&gt;kada papa jua&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Salah satu pikiran menarik dari sana adalah, keinginan mengujinya secara proses. Apakah banyak yang menulis bahasa Banjar atau bahasa Indonesia. Lalu, apa yang ditulis itu bentuk lama atau bentuk baru. Kalau yang ditulis itu bentuk lama, ya… kita terima, tapi kalau yang ditulis itu bentuk baru, nanti dulu. Apalagi kalau tulisan itu bukan berisi kode budaya Banjar, sekedar berbahasa Banjar, &lt;i style=""&gt;ngalih&lt;/i&gt; memasukan kategori apa, &lt;i&gt;dintu, wah&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makanya, saya terus terang dari dulu ragu-ragu, apa ini cerpen Banjar, &lt;i style=""&gt;tia&lt;/i&gt; lain. &lt;i style=""&gt;Kada disambat cerpen luku tabulangkir.&lt;/i&gt; Untung dahulu saja menyebutnya cerpen Banjar modern, maksudnya cerpen yang berbahasa Banjar bergaya modern. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Di sini tidak ada arogansi, yang ada berargumentasi. Kalau arogan itu &lt;i&gt;sakahandak pambasaan&lt;/i&gt;. Macam-macam yang ingin diungkapkan, termasuk juga hal-hal tidak relevan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbawa-bawa. Ujar &lt;i style=""&gt;peribasa&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;kada kawa lagi&lt;/i&gt; &lt;i&gt;bapiruhut&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;ditunggul&lt;/i&gt;—&lt;i style=""&gt;guang-gail tunggulnya&lt;/i&gt;—&lt;i style=""&gt;handak balapas, luku tinggalam, tapaksa ai ragap papan. Orang ti bakunyung mancari papingkutan&lt;/i&gt;. Demikian jua, jika kita berargumentasi, jangan &lt;i&gt;kasak tarus lihati muat kada luangnya&lt;/i&gt;. Jangan &lt;i&gt;tabawa&lt;/i&gt; &lt;i&gt;hati nang panas&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;itu kada sapala lawan nang mamulai&lt;/i&gt;. Sebaiknya, berdebat sastra Banjar upayakan retorikanya adalah sastra. Orang melihat ini argumennya masuk akal atau tidak. Kalau perdebatan sastra, hilangnya sastra &lt;i style=""&gt;ngalih am&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;kena macari-i&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sastra Gambaran Pikiran&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Apabila sastra hendak kita perlakukan secara esensial mestinya kita memerlukan sastra yang &lt;i style=""&gt;langgeng&lt;/i&gt;. Dengan demikian kita memahami posisi sastra sebagai alam berpikir masyarakat. Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat, bahwa sastra lama cerminan masyarakat lama dan sastra baru cermin masyarakat baru. Proposisi itu menunjukan cara pencerminan yang bagus diambil sebagai perumpamaan. Kalau titik sentuh ini kita analogikan ke arah perdebatan kita, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa cara berpikir masyarakat “kita” jauh ke belakang. Sastra Banjar itu ada, tetapi adanya sebagai nostalgia. Pikiran sastra lama--yang memiliki fomat seperti itu—sampai sekarang tidak mampu dituruti sastrawan sekarang. Orang zaman sekarang melihat bahwa itu sebuah kenyataan pemberontakan estetika. Apa yang tersaji dalam bentuk sastra lama mestilah harus beda dengan kehendak berpikir masyarakatnya. Reaksi yang cukup besar muncul mana kala orang mau menulis sastra Banjar. Reaksi pemberontakan terhadap estetika sastra tradisional dijadikan sebagai titik perdebatan. Orang menolak seluruhnya dan ingin menggantikan dengan hal baru, kemudian menamakan dirinya estetika sastra Banjar. Ini namanya terlalu mudah membuat provokasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sebetulnya saya ingin keluar dari plot yang menjerat ini, karena kemunduran pemahaman tentang sastra. Bagi saya, perbedaan mengesankan dari perdebatan tentang ini adalah kemenarikannya tentang “sesuatu” yang tidak diharapkan. Secara fundamental ada hubungan dengan masa lalu. Hubungan masa lalu hendak dirombak diganti dengan masa kini, tetapi tetap dengan memberi label nama masa lalunya. Nama formalnya menuruti nama besar Banjar, sedangkan isinya semua baru. Ada penyimpangan dari yang &lt;i style=""&gt;original&lt;/i&gt; ke dalam reduksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;model pemahaman yang sekehendak hati. Saya melihat ini adalah isu politik sastra yang cukup krusial pada masa kini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Jika kita kembali ke tema perdebatan dan pengetahuan tentang sastra Banjar: bentuk mana yang memunculkan isu &lt;i style=""&gt;kecendekiaan&lt;/i&gt;—apakah keunggulan sastra itu dimunculkan oleh monolingual atau multilingual? Dan apakah momen masyarakat ini akan ditentukan oleh aspek bahasanya, &lt;i style=""&gt;an sich&lt;/i&gt;? Mari kita mengkarakterkan konsep klasik dari paradigma pengetahuan sosial. Di dalam proses ini, kita akan membedakan antara permainan bahasa sastra dengan yang bukan bahasa sastra. Lintasan pengetahuannya adalah lingkaran penggunaan bahasa. Bahasa adalah sumber pengetahuan “kebanjaran”. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa politik untuk memahamkan pengetahuan dan emosi yang &lt;i style=""&gt;bertakik-takik&lt;/i&gt;, tidak mungkin orang bisa menangkap hal-hal yang bersifat profan dalam koridor bahasa yang monolingual. Benar atau salah proposisi ini, semuanya mempengaruhi masing-masing pos pragmatisme, yang dimainkan penyampai dan penerimaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 30pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;, penyampaian harus berbicara kebenaran tentang apa yang dimaksud? Yakni, pada satu sisi, referen tersebut diharapkan dapat memberikan bukti tentang apa yang dikatakan, dan sistem lain yang ia diharapkan dapat menyangkal setiap pernyataan yang bertentangan atau kontradiktif dengan referen yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 30pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;, harus dimungkinkan bagi penerima untuk memberikan secara sah (atau menolak) persetujuan terhadap pernyataan yang didapat. Hal ini ditunjukan sendiri oleh penyampaian yang potensial, sebab saat merumuskan—persetujuan atau ketidaksetujuan—ia akan membuktikan betapa pentingnya sebagai subjek dari dua tuntutan yang sama (bukti atau penolakan) yang dikatakan oleh orang yang mengacu bahwa sastra Banjar tergantung dari bahasanya. Karena ia diharapkan memiliki kualitas yang sama dengan garis pemikiran orang lain. Tidaklah lazim kita berpikir bahwa sastra Banjar pada zaman sekarang ditentukan oleh bahasa Banjar yang dipakainya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahasa Indonesia banyak yang mampu mengutarakan hal yang bersifat &lt;i style=""&gt;kebanjaran.&lt;/i&gt; Bagi yang tidak setuju itu tidak masalah, silahkan menulis dalam bahasa Banjar. Yang penting kode budaya pada bentuk itu lebih tersedia. Siapa pun dia, dari mana pun asalnya kalau dia menulis dalam kode&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;budaya Banjar tak dipersoalkan. Tetapi ini hanya bisa dipahami bila ia dibicarakan dalam konteks pengembangan sarana berpikir meningkatkan peran sastra Banjar sejajar dengan sastra lain. Kondisi tersebut akan tidak mungkin untuk bangkit jika tetap menggunakan bahasa Banjar, sebab&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahasa Banjar sekarang—sadar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau tidak—selalu digunakan sebagai sarana &lt;i style=""&gt;tatawa, bamamai&lt;/i&gt;, dan menampung pikiran tradisional, bukan sarana pengembangan kemampuan berpikir. Fungsi kemampuan berpikir itu dapat dilakukan asal direncanakan lagi vitalitasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Sastra Selalu Liar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 30pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Karya sastra selalu bergerak liar. Jangan gampang kaget atau suka kagetan kalau suatu ketika diperkirakan hal-hal tidak akan berubah formatnya, susunannya, estetikanya. Lakukan analisis, pelajari segala aspek dan sebab-musababnya secara luas, tuntas serta mendalam. Jangan terlalu cepat mengemukakan pernyataan-pernyataan. Demikian juga, kalau suatu saat tiba-tiba muncul sastra Banjar ditulis dalam bahasa Indonesia jangan dianggap “ganjil”, yang tidak biasa, segera lakukan studi dengan berbagai alat dan cara pendekatan. Juga jangan buru-buru mengeluarkan pernyataan. Kalau memang tidak dapat menghargai, malas atau tidak mampu melakukan telaah atas karya itu, lebih baik diam daripada ikut menciptakan belantara penataan yang pada gilirannya akan menambah kaburnya persoalan. Tidak jarang terjadi, ada orang menganggap atau merasa asing menghadapi kenyataan yang dipaparkan atau disajikan seorang sastrawan karena tidak seperti apa yang diharapkan atau tidak sesuai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan bayangan semua orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup, sedangkan bahasa Banjar adalah bahasa yang terbatas vitalitasnya. Tidak banyak orang yang mampu menulis dalam bahasa Banjar, sedangkan pikirannya perlu dikeluarkan. Karena itu kenapa bahasa Indonesia diambisikan untuk menangkap kenyataan kode budaya sebagai sesuatu yang hidup, banyak coraknya, banyak pikirannya. Pendek kata, banyak kemungkinannya. Salah satu kebanggaan saya, terus terang, sebagai seorang Indonesia, adalah karena bahasa Indonesia memiliki begitu banyak pemakai sebanyak daerah, budaya suku-suku bangsa yang ada. Kita bisa menciptakan sastra standar, sastra bernilai, sastra pinggiran, dan lain-lain dari bahasa yang dipakai. Pikiran dalam sastra tidak akan pernah diketahui bangsa lain kalau kita terlalu memeliharanya dalam bahasa yang memiliki vitalitas terbatas. Tidak berupaya untuk menciptakan keseragaman tetapi perbedaan-perbedaan pemikiran yang dikandung dalam sastra tersebut mampu dibaca orang. Wajar &lt;i style=""&gt;dong&lt;/i&gt; kita memiliki cita-cita besar yang memiliki ruh kebudayaan Indonesia yang sedang menjadi. Masalah ini bukan semata-mata masalah teknis permainan tetapi sarana berpikir yang harus dikembangkan. Jadi, perombakan apa pun dan bagaimana pun kecilnya dalam persoalan bahasa adalah juga perombakan dasar-dasar kebudayaan karena penangkalnya adalah perombakan cara berfikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="IN"&gt;Lebih-lebih, kalau saya perhatikan, dalam sastra Banjar sesungguhnya juga memiliki kedalaman berpikir yang tidak setipis dan sesempit sikap kita. Sebagai pembaca saya tidak sampai hati membiarkan “ruh” mati dalam kehidupan. Dalam polemik ini saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sengaja berbeda dan barangkali juga tidak sama pendapat dengan orang yang mengatakan sastra Banjar itu tidak ada. Meskipun berbeda, saya sangat menghargai semangat dan cara mengemukakan pendapatnya. Ini saya persoalan pikiran dan harapan yang dapat dicatat dan selanjutnya—paling tidak—menjadi renungan kita bersama. Sebagian masyarakat sastrawan sekarang masih mendua, kalau tidak mau dikatakan “belum jadi”. Pada satu sisi masih terikat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada pikiran (daerah) kemarin, sedangkan pada sisi yang lain terayun-ayun pada kebudayaan (nasional) yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berubah menjadi kabur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 30pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-3145657631696460503?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/3145657631696460503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=3145657631696460503' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/3145657631696460503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/3145657631696460503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/strategi-sastra.html' title='STRATEGI SASTRA'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-1582788581137444075</id><published>2008-08-19T11:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T11:55:56.777-07:00</updated><title type='text'>SASTRA BANJAR ELASTIS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoTitle" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; text-transform: uppercase;" lang="PT-BR"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoSubtitle"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-style: normal;" lang="EN-US"&gt;Oleh Jarkasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; font-style: normal;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saya yakin dan terus meyakini bahwa kesusatraan akan selalu hidup bagai organisme. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Dalam fase-fase tertentu ia bisa &lt;i&gt;takang&lt;/i&gt;, tetapi pada fase berikutnya bisa saja ia bergerak liar seirama kemajuan-kemajuan berpikir orang. Dalam analogi lain, bukankah era &lt;i style=""&gt;ular lidi&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;naga balimbur&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;gigi haruan&lt;/i&gt; pada fase ornamen Banjar berikutnya mengakui masuknya inspirasi baru sehingga mewujudkan &lt;i&gt;tali bapintal, gagatas, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; nenas&lt;/i&gt;. Karena itu, bisa saja pada fase-fase &lt;/span&gt;&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;selanjutnya inspirasi itu terus berdialektik mencari kemapanan baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Dinamika berpikir bisa saja bergerak pelan dan hadir mencengangkan orang di sekelilingnya. Ini terjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena orang menginsyafi hikmah berpikir yang dikaruniakan Allah swt. yang selalu dimanfaatkan secara tepat dan benar. Allah swt. mempersilahkan manusia untuk mencari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan menemukan tanda-tanda baru kebesaran-Nya, tapi bukan untuk menjadikan diri sendiri lupa, lalu menganggap mapan dan paling benar. Sepanjang orang masih bisa memperdebatkan melalui tangga-tangga argumentasi—bukan ekspresif—tentu masih bisa dipakai sebagai sebuah medan adu pikir. Kita yang menghormati proses berpikir, mari kita sama menjauhkan pikiran kasar yang berakar pada sentimen dan ego kultural. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Sungguh banyak hal dalam hidup ini yang belum tertuntaskan, karena itu mari bekerja sama menelaahnya secara proporsional. Untuk menyederhanakan perbedaan yang ada mari kita mempertimbangkan satu hal yang biasanya dipakai dalam penerapan cara berpikir ilmiah. Salah satunya adalah mengotak-atik batasan operasional. Saya melihat, dua hal yang tidak bisa disatukan dari pandangan kesastraan adalah, masih dikuatkannya batasan-batasan lama tentang satu hal yang sesungguhnya bisa meninggalkan kita dengan munculnya pemikiran-pemikiran baru yang seharusnya juga bisa disikapi. Misalnya, definisi sastra yang hanya mengandalkan objek-objek masa lalu selalu akan mengalami kegagalan jika berhadapan dengan fenomena baru dari suatu kenyataan &lt;i style=""&gt;trend&lt;/i&gt; cipta sastra mengacu pada idiom ketegangan dan pembaharuan. Ambil contoh, sastra dimengerti sebagai karya bahasa yang indah bagus. Terkadang sukar menemukan mana indahnya dan mana bagusnya. Lalu, muncul pula definisi turunannya, puisi adalah karya terikat; terikat oleh bait, irama, bahasa dan sebagainya. Sebaliknya, prosa, katanya karya yang bebas, tidak terikat oleh baris, bait, irama, dan format. Pemahaman itu selalu terbaca dalam buku-buku pembelajaran sastra masa lalu. Selanjutnya, kita pun bertemu dengan puisi-puisi mutakhir sebutlah misalnya puisi konkret, puisi kotak, puisi mini kata, puisi bebas atau puisi-puisi yang lebih mengutamakan isi. Begitu juga, kalau kita menemukan prosa-prosa liris atau juga prosa-prosa mini, kita pun menjadi bingung merekonstruksi cetak biru dari pemahaman prosa yang pernah kita tangkap dari beberapa fase sekolah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="EN-US"&gt;Serpihan otak kiri dan kanan kita sering berdebat internal, apa yang salah dengan pengertian masa lalu. Demikian pula sering orang memberi batasan bahwa fiksi adalah karya imajinatif (khayal), dan non-fiksi adalah karya ilmiah tanpa khayal. Namun, kenyataannya banyak fiksi yang memuat fakta, sebaliknya begitu &lt;i&gt;bejibun &lt;/i&gt;orang merekadaya sebuah penelitian di belakang meja atau tulisan-tulisan yang dikategorikan non-fiksi tapi sesunggunya fiksi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Kita menjadi asing dalam sangkar emas yang kita ciptakan sendiri. Kita tidak bisa keluar menyaksikan keramaian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Seyogianyalah, kita tidak mesti harus terkejut dan sinis memandang kalau ada seorang yang berpendapat bahwa karya sastra itu memiliki dimensi yang cukup dinamis dan bergerak bagai organisme. Jika ada sastra Banjar yang tidak berbahasa Banjar sebutlah misalnya bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Jepang dan sebagainya, saya pikir itu hal-hal yang ringan saja. Lalu apakah sastra yang berbahasa Banjar sendiri kita tinggalkan, &lt;i&gt;ya enggak toh&lt;/i&gt;. Sebab, ini fase yang pernah dilalui dan kita memang harus memahami dinamika itu. Bertahan dalam sangkar emas pengertian bahwa sastra Banjar—apakah puisi atau prosa—dibangun oleh bahasa Banjar adalah sesuatu yang sebaiknya kita retrospeksi lagi jika tidak ingin dikatakan membelenggu bagi pencapaian gairah lain dalam pengembangan kode kultural. Masalahnya, &lt;i style=""&gt;trend &lt;/i&gt;cipta sastra itu sendiri bergerak liar. Perdebatan klasik sering dihembuskan &lt;i style=""&gt;trend&lt;/i&gt; penulisan teori sastra selalu tertinggal dengan kemajuan yang terjadi dalam dunia sastra itu sendiri. Lalu, jika ada yang berpendapat bahwa sastra Banjar tidak mesti dengan bahasa Banjar dengan segera kita tafsirkan orang itu tidak senang sastra Banjar atau sikapnya arogan, tidak mencintai sastra Banjar, dan sebagainya. Ini namanya &lt;i style=""&gt;lain gatal lain yang digaruk&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Saya memahami, ada dua pemikiran dasar yang &lt;i&gt;basengkengan&lt;/i&gt; tetapi sama-sama argumentatif—boleh terus dibedakan atau mau dikombinasikan juga boleh. Yang pertama membawa definisi teoretis-operasional, sedangkan yang satunya lagi harmonis kondisional. Yang pertama akan menafikan segala bentuk perkembangan pikiran-pikiran baru yang “mungkin tidak salah”, sedang yang satunya lagi punya pandangan jauh ke depan seirama dengan sifat cipta sastra yang selalu bergerak “liar”. Dua pokok pikiran ini memang sulit bertemu. Karena itu, saya lebih senang menyerahkannya kepada &lt;i&gt;audiens&lt;/i&gt; dan membiarkan kreativitas ini hadir, mengalir tanpa harus dibelenggu. Dalam ilustrasi lain, saya paling sedih kalau ada tulisan di pangkalan becak; &lt;i&gt;becak lain silahkan jalan&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;ojek lain silahkan terus&lt;/i&gt;. Seperti tidak menyukai kalau ada orang lain mendapatkan rezeki dari Allah swt. di dekat pangkalan itu. Ilustrasi ini bisa diteruskan, semakin tidak bisa berterima kalau kita berbeda pandangan dalam memandang sesuatu yang bergerak dinamis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Umberto Eco (1976: 7) dalam bukunya &lt;i&gt;A Theory of Semiotics&lt;/i&gt; mengingatkan, kita harus sadar kapan kita merasa dikelabui, mengapa itu terjadi, dan bagaimana itu terjadi. Ungkapan ini bisa saya imajikan kadang-kadang tanpa sadar kita membohongi atau mengelabui orang lain dengan tanda-tanda dan simbol yang kita nyatakan, padahal simbol itu memiliki fase-fase makna tersendiri dalam arus zaman. Ada semangat zaman yang harus kita baca. Itulah sebabnya, saya tentu tidak akan keberatan kalau sastra yang berbahasa Indonesia atau bahasa asing bisa dikatagorikan sastra Banjar jika sastra tersebut memuat kode-kode kultural Banjar atau setidaknya bisa dengan &lt;i&gt;alih kode (code switching)&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Disayangkan, ini menjadi rumit karena setiap “kita” hanya berpegang pada satu realitas masa lalu sebagai pintu yang dikunci rapat. Boleh ‘kan kalau saya berpostulat bahwa kita perlu mempelajari alam nyata untuk bisa juga meraba di mana gelap dan di mana terang. Saya khawatir, jangan-jangan si Nurdin memahami perkuliahan bahasa-sastra di Program Studi PBSID itu menangkap simbol-simbol yang &lt;i&gt;zakelijk&lt;/i&gt;, padahal dia perlu berpikir liar dan &lt;span style=""&gt;ambivalen.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Sastra kita bergerak dinamis dengan medan ungkapan yang &lt;i&gt;multimedia&lt;/i&gt;. Itu tidak bisa dihindari. Yang harus dijaga adalah, setiap media mesti memelihara titik kulturalnya. Apa pun bahasa yang dipakainya akan kembali ke titik pusatnya “Banjar”. Ini perlu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesabaran kita memahaminya. Pemahaman &lt;i&gt;akar&lt;/i&gt; itulah yang tidak boleh hilang. Kalau kita bicara &lt;i&gt;akar&lt;/i&gt;, linierkah maksudnya dengan bahasa? Tidak, ‘kan? Bahasa hanya sarana berpikir, alam berpikirnya sendiri utuh dan mengikat sekali dengan kode kultural.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Beda sekali dengan teater, tari, musik yang secara inheren itu semua adalah sistem kesenian, sedangkan substansinya amat universal. Jadi tidaklah patut dikhawatirkan jika sastra Banjar itu bukan berbahasa Banjar. Fenomena ini &lt;i&gt;‘kan&lt;/i&gt; bisa saja terjadi secara temporer, tetapi pintu masuknya tersedia, bukan menguncinya rapat-rapat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Jika si Nurdin cuma cinta dan takjub pada sastra berbahasa Banjar, sedangkan dia banyak sekali menemukan kode-kode budaya Banjar dalam sastra berbahasa lain, bingung ‘kan? Kebetulan minum di warung &lt;i&gt;Acil&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Mijah,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;lalu taulai ai&lt;/i&gt;. Jika Nurdin membaca tulisan ini, saya sarankan agar dia mau memahami dunia sastra yang multidimensional agar sastra itu memiliki kesaktian untuk langggeng. Jika Nurdin ikut mendulang, jangan terlalu banyak mencintai mitos, tapi perbanyak hati-hati sebab lobang dulangan itu bisa &lt;i&gt;rumbih &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;kita bisa mati tapatak&lt;/i&gt; di dalamnya. Kita masih asyik dengan &lt;i&gt;sesajen&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;piduduk,&lt;/i&gt; saat mau mendulang, sedangkan orang lain sibuk sekali dengan mesin-mesin dan alat-alat canggih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Memahami dunia sastra perlu pertimbangan. Jangan terlampau mengandalkan romantisme, sebab bisa-bisa salah kaprahnya tentang yang kita sangka isinya padahal kulitnya, yang kita sangka identitas ternyata bajunya. Dalam pandangan ilmu kesehatan suatu penyakit bisa saja disembuhkan dengan menginsyafi bahwa &lt;i&gt;kumpai-kumpai&lt;/i&gt; di halaman kita dan di dalam diri kita justru begitu banyak &lt;i&gt;tatabulan &lt;/i&gt;yang memang sebaiknya &lt;i&gt;ditabasi&lt;/i&gt;. Kekhawatiran kita terhadap kelesapan apa yang kita maksudkan dengan identitas kesusastraan Banjar—jika memang tidak ada penerusnya atau tidak ada pengayoman pihak tertentu—sesungguhnya bisa dikreativitaskan dan redam dengan penglihatan terhadap kontinyuitas akar budaya, keharusan untuk kontinyu serta kerelaan untuk modifikasi. Kita justru akan makin gagal untuk berbangga diri sebagai komunitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang memiliki sastra Banjar ketika berjalan dengan satu wajah cemberut dan konservatif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Apakah sastra Banjar akan hilang tanpa sastra berbahasa Banjar? Tidak, &lt;i style=""&gt;kan?&lt;/i&gt; Yang penting kita tidak akan menampik, siapa pun dan bahasa apa pun yang datang dan sungkem mengangkat akar budaya Banjar—kendati sekedar datang ber-KKN atau datang menjenguk mertua—jangan takut mengakui bahwa yang ditulisnya itu adalah sastra Banjar atau yang lebih khusus lagi subdialeknya karena sarat kode kulturnya. Tak ada dosa juga ‘kan kalau sastra Banjar itu ditulis dalam bahasa yang bukan Banjar. Ini artinya makin berpihak pada kreativitas. Rasanya, tak ada juga pihak yang kredibel memberi fisibilitas untuk menentukan sastra Banjar adalah berbahasa Banjar atau sastra Banjar harus berbahasa Indonesia atau bahasa asing. Yang ada semua pihak diberikan kesempatan melangsungkan interaksi kreatif dengan sastra “kita Banjar”. Yang penting jangan mengatakan sastra berbahasa Banjar itu sudah tak dipercaya atau ketinggalan zaman, atau sastra berbahasa Banjar itu &lt;i&gt;uyuh&lt;/i&gt;. Kalau yang terakhir ini &lt;i&gt;bahualai ganal am&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;Terus terang saya tidak ingin lagi mengingat-ingatkan dengan sikap politik. Saya hanya ikut membela siapa pun dan dengan bahasa apa pun yang menulis sastra Banjar dengan kekentalan kode budaya Banjar boleh jadi adalah sastra Banjar. Apakah sastra Banjar anggota biasa luar, anggota biasa, atau sastra Banjar anggota kehormatan. Itu sih berkenaan dengan sikap politik yang tidak saya senangi. “Kita” terkadang paling senang menciptakan batasan-batasan dan kategori eksklusif, yang hanya didasari oleh kecemburuan dan konservatif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;" lang="PT-BR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-1582788581137444075?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/1582788581137444075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=1582788581137444075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/1582788581137444075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/1582788581137444075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/sastra-banjar-elastis.html' title='SASTRA BANJAR ELASTIS'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3012360470919712841.post-8448633489987912963</id><published>2008-08-19T11:29:00.000-07:00</published><updated>2008-08-23T12:21:42.081-07:00</updated><title type='text'>KETERASINGAN DAN KEINTIMAN DALAM RUMAH SASTRA BANJAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Oleh Sainul Hermawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Tulisan Burhanuddin Soebely, “Ujar Aluh: Yang Sempit Itu Enak” dan tulisan Setia Budhi, “Membuang Rasa Kagum terhadap Sastra Banjar” memberikan informasi berharga bagi para orang asing dan para orang dalam yang juga asing terhadap sastra Banjar mengenai sebagian kondisi mutakhir sastra Banjar. Orang asing itu—mungkin termasuk saya—bersama orang dalam yang asing yang juga mungkin sangat banyak jumlahnya. Dalam hal ini asing dan intim kadang-kadang batasnya juga remang-remang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Idealnya, seorang sastrawan yang telah lama menghidupkan sastra Banjar dalam segala dimensi sistemnya kurang layak jika berlagak atau merasa asing dengan sastra Banjar. Tapi jika tiba-tiba hal yang kontra ideal tersebut terjadi, hal ini dapat kita pahami sebagai sebuah bentuk keterasingan tuan rumah sastra Banjar terhadap rumahnya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Karena penghuni rumahnya yang banyak, hiruk-pikuk, kurang disiplin, meski hidup bersama di bawah satu atap, antara penghuni yang satu dan yang lainnya tak mau tahu menahu, tak mau saling bahu-membahu. Setiap penghuninya sibuk mengurusi popularitasnya sendiri dengan cara pura-pura mabuk dan pura-pura pingsan, dengan cara selingkuh kecil-kecilan dengan penguasa, dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Idealnya, orang serumah itu musti rukun, intim, saling bisa merasakan, saling peduli, saling asah dan asuh. Penghuni senior mestinya mengasihi dan memotivasi penghuni yunior agar terus mengembangkan kreativitas kesastraannya karena mereka kelak adalah generasi penerus atau pemegang tongkat estafet sastra Banjar yang berikutnya. Sastrawan senior dan junior, sastra Banjar berbahasa Banjar dan sastra Banjar berbahasa Indonesia, sastrawan kota dan pedalaman dan sastrawan kota, sastrawan dan pembacanya, dan sebagainya mestinya harus selalu bersanding merundingkan nasibnya di hadapan godaan globalisasi, bukan saling bertanding untuk saling mematikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau hal ini dapat berjalan dengan baik, tentu setiap penghuni rumah sastra Banjar dapat menjelaskan kepada para orang asing yang ingin intim dengan sastra Banjar ketika orang asing tersebut menganggap atau sedang membayangkan pasti ada sesuatu yang sangat berharga dalam sastra Banjar.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun ketika B. Soebely dan S. Budhi pun mempertanyakan sastra Banjar secara implisit dalam nada yang mungkin agak ngepop, “Ada apa denganmu?”, ini mengindikasikan bahwa yang merasa asing dengan sastra Banjar bukan sepenuhnya orang asing, atau orang-orang kota atau bukan pula orang-orang di negeri angin yang (dibayangkan) gagah perkasa (meminjam ungkapan S. Budhi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Jadi, perdebatan antara guru bahasa dan sastra di pelosok negeri dan orang-orang kota bukan semata bersifat oposisi biner antagonistik dan absolut sehingga atribut keterasingan persepsi terhadap sastra Banjar tak sepenuhnya dapat disandangkan hanya kepada orang kota dan keintiman emosional hanya dapat disandangkan kepada orang pedalaman. Keduanya sama-sama berpeluang untuk intim sekaligus terasing dengan sastra Banjar. Orang pedalaman masa kini sudah mudah bercinta dengan televisi seraya mungkin sambil berkata dalam hati, “&lt;i&gt;Go to hell with&lt;/i&gt; Sastra Banjar!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Di samping itu, keintiman yang lama dan intens orang pedalaman dengan sastranya secara psikologis juga berpeluang membuka ruang bagi proses &lt;i&gt;banalisasi&lt;/i&gt; persepsi, &lt;i&gt;otomatisasi&lt;/i&gt; atensi. Ibarat pacaran, karena terlalu intim, kedua pasangan tersebut jadi bosan. Jadi, ada untungnya ada orang asing yang masih mau dan mampu menjaga jarak dengan sastra Banjar, melihat sastra Banjar secara proporsional dan tak terlalu subyektif sehingga pada akhirnya perhatiannya terhadap sastra Banjar tetap konstan: tidak bosan dan tak terlalu terkesan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Kalau saya apropriasi jawaban untuk pertanyaan S. Budhi yang mempertanyakan kategori sastra Banjar yang mana—dari sederet kategori panjang yang dia sebutkan dalam tulisannya—yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sedang diperdebatkan? Pertanyaan semacam itu bagi ramuan gembrot tentu sangat mudah dijawab dan landasan perdebatannya terbentang luas. Persoalannya, siapa yang harus menjawab: orang asing atau orang dalam?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sejauh itu perdebatan ini tidak hampa karena sumber-sumber perdebatannya ternyata memang ada, seperti telah disinyalir oleh B. Soebely di akhir tulisannya. Perdebatan ini juga dapat menjadi langkah awal untuk mengagas langkah berikutnya yang lebih programatis dalam rangka memperbaiki lahan dan habitat untuk menegaskan identitas unikum sastra Banjar. Namun, perdebatan ini bisa saja seketika jadi hampa jika seluruh penghuni sastra Banjar menyikapinya sebatas obrolan sambil lalu karena pertimbangan, yang bagi saya, aneh: pertimbangan yang memandang ada dan tiadanya sastra Banjar tidaklah penting bagi tuan rumahnya sendiri. Apakah ini merupakan karakteristik ekstrinsik yang khas dari sastra Banjar?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ramuan Gembrot dan Salawar Urang&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Definisi sastra Banjar yang luwes, elastis, lentur, dan luas, bukan semata dimaksudkan untuk mencaplok wilayah sastra yang bukan bagiannya meski mungkin saja digunakan untuk itu. Tetapi definisi luwes selalu berupaya menempatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap fluiditas identitas sastra Banjar. Apakah karya Ngarto dan NH Dini dalam kasus karyanya yang disebutkan B. Soebely dapat dimasukkan ke dalam sastra Banjar? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Kita lihat dulu bagaimana masyarakat sastra Banjar memposisikan kedua karya tersebut. Jika masyarakat Banjar mengiyakan, maka jadilah keduanya sebagai sastra Banjar. Jadi, definisi gembrot hadir bukan dengan kesadaran singset yang menutup diri terhadap segala kemungkinan perubahan identitas sastra Banjar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia sangat akomodatif. Ia bisa menerima pandangan bahwa sempit itu enak untuk satu hal dan belum tentu enak bagi hal yang lain. Bagi definsi gembrot, klaim bahwa sempit itu enak tentu sangat kontekstual, tergantung apa yang ingin dimaksudkannya, bahkan di baliknya pernyataan itu juga bisa berarti: sempit itu juga tak enak bagi “gairah” yang mudah layu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Dengan kata lain, definisi yang luas pasti jauh dari niatan untuk mendefinisikan sastra Banjar secara sepihak dalam pengertian definisi sayalah yang paling benar dan yang lain keliru sama sekali. Karena jauh dari watak sepihak, definisi yang luas jelas tak riskan apalagi sampai dapat merendahkan sastra Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Definisi yang luas adalah definisi dinamis yang dapat digunakan untuk melihat sastra Banjar dalam segala dimensinya. Bahkan definisi yang luas tidak menafikkan definisi yang singset karena definisi yang luas ini adalah akumulasi dari definisi-definisi yang sempit dan sepihak. Definisi yang luas adalah medan seleksi bagi pemungutan definisi yang relatif adekuat bagi kepentingan tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Jadi, sastra Banjar bisa sastra berbahasa Banjar di mana saja di seluruh dunia, bisa pula sastra karya sastawan Banjar yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang diproduksi dan dikonsumsi di Banjar (baik sebagai kategori geografis maupun sebagai kategori kultur), dan bisa juga selain dua kategori ini, yaitu segala sastra dalam bahasa apa saja, dikonsumsi di mana saja, yang oleh masyarakat Banjar diklaim sebagai sastra Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sejauh ini lamunan saya tentang sastra Banjar mungkin tak jauh beda dengan ruh lamunan sajak “Lamunan” karya B. Soebely dalam &lt;i&gt;La Ventre de Kandangan &lt;/i&gt;(2004: 200).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: normal; font-style: italic;"&gt;          Sehabis bercakap di inti diri, kukenangkan sejenak&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;apa-apa yang terluput dari hidup, dan membayangkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;ke mana perginya ruh setelah ketiadaan agar terdapat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;titik pinasti bahwa setelah saat itu masih akan ada &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;hidup yang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Tetapi aku tak menemukan apa-apa, kecuali segumpal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;Awan dari tanyaku yang terasa demikian asing lantaran di &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;tiap ujung bayang-bayang yang datang Engkau jualah yang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;meletakkan pandang. Memperdalam Hening.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keterasingan orang Banjar terhadap khasanah sastranya begitu terasa keheningannya sehingga, untuk sementara, saya bisa menyatakan, meski tak sedikitpun berpretensi untuk menyimpulkan secara mutlak, bahwa inti diri atau &lt;i&gt;core identity&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;sastra&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;Banjar adalah sastra yang hening dari atensi publiknya, baik senimannya maupun pembacanya. Karenanya, mengharapkan guyuran gagasan dari gumpalan awan yang dihadirkan S. Budhi adalah harapan untuk mempertegas sudut pandang mengenai eksistensi sastra Banjar atau sebagai salah satu sumber energi baru bagi kebangkitan kembali sastra Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h4 style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Jamal Sang Penyair&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Tetapi niat saya untuk intim dengan sastra Banjar, dengan cara yang saya lakukan selama ini telah dituduh sebagai sikap arogan oleh Jamal yang merasa sebagai Mr. Big dalam—mungkin juga &lt;i&gt;owner&lt;/i&gt;—rumah sastra Banjar. Keinginan untuk intim yang diniatkan agar sempat mengembangkan kebiasaan pembacaan kritis terhadap keberadaan sastra di Banjar justeru telah dipandang sebagai keengganan mengakui keberadaan sastra Banjar (Lihat “Masalah Eksistensi dan Problem Pengembangan”) hanya karena pernyataan saya bahwa sastra Banjar dalam hal tertentu bersifat agnostik: ada tetapi tidak ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Tetapi tak apa-apa karena inilah satu lagi bukti dampak keterbatasan bahasa yang saya gunakan dan keterbatasan resepsi penerimanya. Sebenarnya permintaan Jamal dalam tulisannya agar saya menjelaskan dengan argumen logis dan lebih realistis mengenai maksud keagnostikan sastra Banjar telah dijawab secara logis dan realistis oleh tulisan Jamal sendiri. Sebagian jawaban lain juga tersampaikan secara tersirat dalam tulisan B. Soebely dan S. Budhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Mari kita lihat pada paragraf ke-7 sampai ke-9&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam tulisan “Masalah Eksistensi....”. Ketika Jamal mengatakan di akhir paragraf ke-7 bahwa kondisi sastra Banjar jauh lebih terjepit daripada sastra Jawa dan, pada paragraf ke-8, menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi sastra&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Banjar menyangkut persoalan pengarang, pembaca, media penerbitan, dan kritik sastra, serta, pada paragraf ke-9, menyatakan bahwa sistem sastranya tidak kondusif, hal ini sebuah kenyataan agnostistik bagi saya: sastra Banjar lebih banyak berada dalam angan-angan dan nostalgia daripada dalam kenyataan yang hidup dan meriah. Adalah “fitnah” jika saya dianggap tak mengakui keberadaan sastra Banjar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Bahkan saya sangat mengakui eksistensinya dalam perspektif yang gembrot, luwes, lentur, elastis, “tuyul”, dan (kata Jamal) dengan cara “anak bau kencur” yang miskin pengetahuannya soal hakikat eksistensi sastra Banjar. Saya sangat bersimpati dengan apresiasi yang menganggap cara saya menyikapi sastra Banjar seperti ini sebagai salah satu bentuk upaya untuk berpartisipasi dalam pengembangannya. Tetapi cara &lt;i&gt;fitness&lt;/i&gt; pikiran gembrot saya memang tidak saya tujukan untuk mencapai kesingsetan yang kekar dan perkasa pada akhirnya. Ya, ini sekedar cara hidup sehat dengan mensyukuri karunia Tuhan: otak, hati, mata, dan jemari. Jika niat ini pun disalahpahami, ya terserah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Begitu pula dengan pertanyaan Jamal soal parameter keberadaan sastra Banjar sebenarnya juga sudah dijawab sendiri olehnya dalam tulisan itu: parameternya bukan semata soal kuantitatif dan kualitatif, melainkan juga soal sistemik dan &lt;i&gt;programatika-&lt;/i&gt;nya (meminjam istilah B. Soebely). Jadi, ketika semua itu ada pada sastra Banjar berarti secara &lt;i&gt;kaffah&lt;/i&gt; sastra Banjar memang ada, tetapi jika hanya ada sebagian, maka keberadaannya berarti agnostik: ada, tapi sebagian (kalau tak bisa dikatakan sudah benar-benar lenyap dan belum berganti). Dalam tulisan-tulisan sebelumnya Jamal seringkali melakukan hal semacam ini: pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada orang lain sudah dijawabnya sendiri sehingga orang lain tak perlu lagi menjawabnya meskipun pertanyaannya sebenarnya bukan pertanyaan retoris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Apapun keputusan publik sastra tentang polemik ini, dialektika tulisan saya dan Jamal, serta tulisan-tulisan lainnya baik yang sudah maupun yang akan muncul, akan saya kenang sebagai sebentuk “percintaan klasik” antara akademisi sastra dan sastrawan sambil merenungkan sajak “Jangan Bercinta dengan Penyair”&lt;i&gt; &lt;/i&gt;karya Faiizi L. Kaelan (2003: 27).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Aku menghuni sunyimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;dengan simponi angin mengiringi pencari kayu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;engkau melambung ke angkasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;langit yang entah berbatas mana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;lalu, kutitikkan untukmu puisi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;setetes madu lebah putih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;dari rimba tempat Arjuna mengelana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;“Aku kekasih paling kekasih,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;begitulah bisikan penyair&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;tapi karena engkau terlanjur percaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;pada kata-kata para pujangga zaman romantik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;maka tak juga jera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;engkau menjadi yang kesekian,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;yang keberapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sekarang, bilang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;“Aku musuh penyair, aku musuh penyair&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;mereka yang lahir dan mati di taman bunga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;tanpa pernah tahu, kalau dunia ini sepenuhnya neraka!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;         Sekarang, katakan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;bahwa cinta adalah Rahwana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;dan Shinta tak pernah lahir untuk Rama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;bertualanglah dengan siapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;sampai engkau merasa yakin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;bahwa selain aku, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;semua yang membual padamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;adalah bajingan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 28.8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Karena keintiman percintaan, mungkin, seperti dalam sajak ini, sang penyair merasa sah-sah saja menggunakan “&lt;i&gt;licentia poetica&lt;/i&gt;”-nya sebagai “pemilik asli” sastra Banjar untuk &lt;i&gt;sarik&lt;/i&gt; pada siapa saja yang mau mengusik keotentikan romantiknya. Nuansa semacam inilah yang sangat terefleksikan dengan kentara pada paragraf ke-5 tulisan Jamal. Mereka yang asing, berlogika tuyul, bajingan dan bau kencur dalam soal sastra Banjar, silahkan minggir. &lt;i&gt;So, who is the&lt;br /&gt;most arrogant and unrealistic?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3012360470919712841-8448633489987912963?l=sastrawan-kalsel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/feeds/8448633489987912963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3012360470919712841&amp;postID=8448633489987912963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/8448633489987912963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3012360470919712841/posts/default/8448633489987912963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sastrawan-kalsel.blogspot.com/2008/08/kererasingan-dan-keintiman-dalam-rumah.html' title='KETERASINGAN DAN KEINTIMAN DALAM RUMAH SASTRA BANJAR'/><author><name>Sastra Banjar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12707751178284054902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_V0BGjvFrmAQ/TMGTytWcZDI/AAAAAAAAAoQ/OWMbEa5vVzk/S220/potoku+updite.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
