Selasa, 19 Agustus 2008

MEMBUANG RASA KAGUM TERHADAP SASTRA BANJAR


Obrolan Sambil Lalu

Oleh Setia Budhi

Aku tak merasa terlalu penting untuk mengulas, menganalisis, menjelaskan sampai tajungkir tasumbalit apakah sastra Banjar itu ada atau tiada, apakah sastra Banjar itu diakui atau tidak diakui atau apakah sastra Banjar itu dikenal atau tidak dikenal. Sebab bagiku perdebatan itu memang perlu, tetapi aku tiada daya dan upaya melakukannya dikarenakan “ngelmu kebathinanku’ tak cukup untuk itu. Daripada mambuang liur basi, lebih baik aku menulis saja apa-apa yang didepan perlu dilakukan.

Seorang guru bahasa dan sastra di pelosok kampung dengan geram sekali mengulas di Radar Banjarmasin perihal spiritualitas dan modernitas sastra Banjar, sementara musuh babuyutannya adalah seorang di negeri angin yang dengan gagah perkasanya menyoal ketandusan, kegersangan dan kehampaan sastra di komunitas yang bernama Banjar.

Apakah yang kita maksud dengan dunia sastra sebenarnya adalah semacam dunia panggung yang berkuasa. Kalau sastra tak berpangung, maka kita kemudian menafikannya dan kalau sastra itu sepi, tidak laris, diam dan lampus maka kita tak mengakuinya sebagai sebuah dunia sastra dan seni. Apakah sastra dan seni merupakan dunia pentas dalam panggung yang hiruk pikuk dalam macam perselingkuhannya?

Jikalau karya sastra yang dianggap sebagai ekspresi kejiwaan dan persepsi terbuka dari apa yang terselubung dalam impresi estetika, mempunyai tugas apa yang berkecamuk dalam diri manusia dan dalam alam semesta. Lalu, di manakah ekspresi sastra Banjar kita temukan?

Orang gila pernah berkata, “Tidak seorang juapun seniman dapat menerima kenyataan”, oleh sebab seniman tidak mau menerima kenyataan maka beliau kemudian membuat kenyataan lain: Sebuah kenyataan yang dianggapnya lebih baik, lebih indah, lebih menjadi, bermakna, bermoral dan lebih ber-Tuhan.

Sastra Banjar adalah kenyataan dari hasil karya yang akrab seperti ditemukan dalam pentun, puisi, hikayat maupun mantra-mantra para pedukunan, tetapi juga sebagai sesuatu yang asing. Karya sastra Banjar yang asing karena ternyata dunia lain seperti yang terdapat dalam karya seni sama sekali tidak dapat dijalani.

Apakah cerita dalam Hikayat Banjar ada dalam dunia nyata?

Berkali-kali aku membaca Syair Siti Zubaidah, lalu berkali-kali juga aku berkata, ”Seandainya saja, ada pemimpin yang adil bijaksana di Banua Banjar sebagaimana Syair Siti Zubaidah, tentulah aku akan merasa bahagia dunia akhirat”

Bagiku apakah cerita Hikayat Banjar atau Syair Siti Zubaidah yang dapat dikategorikan sebagai karya sastra yang istimewa tentang sebuah dunia imajinasi ataupun realitas yang menjadi terimajinasikan.

Bahwa kesetiaan terhadap sebuah karya sastra Banjar yang diperlihatkan oleh seorang guru bahasa dan sastra di pelosok negeri patutlah diberi apresiasi, tetapi bahwa kemampuan untuk membuang rasa kagum terhadap sastra Banjar oleh orang-orang kota dapat dilihat sebagai teropong memandang sastra Banjar sebagai sesuatu yang asing.

Mencairkan sastra Banjar sebagai karya mungkin tidak mengharuskan karya itu dihasilkan oleh seorang seniman besar semacam Ronggowarsito atau Raja Ali Haji atau Sultan Adam, sebab seseorang yang tidak makan sekolahan pun juga melahirkan karya-karya besar dalam zamannya.

Seorang Balian di daerah pedalaman Kalimantan telah melahirkan sastra begitu juga seorang dukun telah melahirkan sastra melalui mantra-mantra yang diingat, ditulis dan dibacakannya. Bukankah, kalau begitu mantra-mantra urang Banjar adalah sastra Banjar juga.

Tibalah, tulisan ini dengan sejumlah pertanyaan untuk dalam apa yang disebut Seno Gumira Ajidarma sebagai Obrolah Sambil Lalu.

Bahwa sayang sekali sastra Banjar yang kalau mau dikategorikan (sekali lagi kalau memang mau) mulai dari sastra Banjar klasik, sastra Banjar zaman kolonial, sastra Banjar pasca kolonial, sastra Banjar modern, sastra Banjar Posmodern, sastra Banjar Kiri, sastra Banjar Kanan, Sastra Banjar Religius, Sastra Banjar Anti Tuhan, Sastra Mantra Banjar, Sastra karya seniman dan bukan seniman, sastra Banjar karya Sang Balian, Karya Sang Pedukunan dan Para Dalang, Karungut, Andi-Andi, Syair Baayun Anak, Syair Mamanda. Sastra Banjar yang dibuat zaman Pergerakan, zaman Pangeran Antasasi, zaman Ibnu Hajar, zaman Ngayao, Zaman hulu balang, zaman krisis ekonomi atau zaman merdeka adalah sederatan sastra-sastra yang menanggung beban pada sejarahnya masing-masing.

Sastra Banjar kategori fungsional, Sastra Banjar kategori struktural, Sastra Banjar Filsafat, pesan-pesan moral. Sastra Banjar picisan dan entah banyak lagi.

Aku berpikir, manakah karya-karya sastra yang itu kita perdebatkan dalam silang pendapat dalam silang sengkarutnya? Sebab dengan ketiadaan sumber-sumber perdebatan maka yang akan terjadi adalah sebuah kehampaan.

Kembali ke asal muasal Obrolan Sambil Lalu ini, adalah tugas paling mulia di hadapan waktu yang terbentang untuk kemudian bergerak bekerja pada sebuah pertanyaan sederhana ”Di manakah rumah sastra Banjar yang kita kagumi?” Kepada siapakah menyatukan raga dalam sattra Banjar yang semesta, apakah kepada kesunyian ataukah kepada keabadiannya ataukah kepada dunia hari ini?

Aku menyukai perdebatan antara orang-orang pedalaman dengan orang-orang kota sebab di antara keduanya telah membuat sastra Banjar kita menjadi bangkit dari liang kuburnya. Itu sebabnya aku nyaris pingsan ketika membaca Sanusi Pane dalam Kesunyian Malam Waktu.

Dibawa Gelombang

Sanusi Pane

Alun membawa bidukku perlahan

Dalam kesunyian malam waktu

Tidak berpawang, tidak berkawan,

Entah ke mana aku ta’tahu

Jauh diatas bintang kemilau

Seperti sudah berabad-abad

Dengan damai mereka meninjau

Kehidupan bumi, yang kecil amat

Aku bernyanyi dengan suara

Seperti bisikan di daun

Suaraku hilang dalam udara

Dalam laut yang beralun-alun

Alun membawa bidukku perlahan

Dalam kesunyian malam waktu

Tidak berpawang, tidak berkawan,

Entah ke mana aku ta’tahu

Kuala Lumpur, 16 September 2005

STRATEGI SASTRA

Oleh Jarkasi

Tidak ada yang merasa jungkir balik dalam satu perdebatan intelektual. Namun tidak tahu pasti, mungkin juga ada yang merasa berada di jalan buntu. Bagi saya itu sah-sah saja. Justru yang tidak bisa keluar dari sana yang merasa perlu memahami cara berpikir orang dan membuka lembaran baru bahwa ada orang berbeda dengan pikiran Anda tersebut. Yang merasa ada jalan buntu itu harus mencari jalan, ‘kan begitu? Kalau saya, ya… banyak pintu masuknya, jadi tidak sedikit pun merasa jungkir baik atau merasa di jalan buntu.

Ada yang menyatakan sastra Banjar itu hidup sampai sekarang. Lalu, yang menjadi rujukannya adalah satu-dua cerpen yang ditulis dalam gaya modern dan atau puisi yang ditulis dalam bahasa Banjar. Tetapi, apa yang ditulis orang dalam bentuk masa lalunya sama sekali beda. Dalam pemahaman saya, sastra Banjar itu ya…syair, ya… pantun. Jadi apa yang tulis dengan cara penulisan cerita bergaya baru, itu sih sama sekali belum sastra Banjar. Sebab sastra Banjar itu terkait kode budaya Banjar. Jika yang ditulis orang dengan bahasa Banjar, lalu orang menamakannya puisi Banjar, ya itu sakahandak Andika. Orang yang berpikir ke arah itu tidak seperti itu.

Akan halnya telah ditemukan dalam buku hasil tulisan saya yang menyatakan bahwa, beberapa cerpen yang saya rujuk dalam tulisan itu adalah cerpen Banjar modern dinyatakan telah keliru betul saja sudah. Dari dulu saya sudah ragu-ragu mau mengatakan apa dengan bentuk itu. Mau mengatakan itu cerpen Banjar, tapi tidak ada sejarahnya dalam sastra Banjar. Sebaliknya mengatakan itu modern mungkin lebih mendekati kebenaran. Bagi saya, jika sesuatu itu dipikirkan dan dapat diwujudkan dalam kaca mata rasional relevan, ya… yang lama kita tinggalkan. Dalam kerangka berpikir seperti ini tidak ada istilah bertahan dengan prinsip yang kita buat sendiri. Karena itu, jika tulisan saya pertama dipatahkan oleh pendapat berikutnya itu bisa saja terjadi. Masa saya harus mempertahankan dengan pikiran semula.

Orang yang memahami makna pragmatisme dalam kerangka berpikir ilmiah—hari ini begini, besok kita tidak bisa mengikuti karena telah ditemukan data-data baru—itu biasa. Bukankah kebenaran ilmu itu bersifat pragmatis? Lagi pula buku saya itu bukan dogma dan bukan agama. Makanya dari awal saya sangat meyakini kebenaran ilmu bersifat sementara, ia bergerak liar. Jika ada orang menyitir pendapat itu dan mengemukakan, bahkan mempertanyakannya, ya… kembali saja pada pikirannya, ya… jika ini bersinggungan maka berarti benar. Bukan kita mengarasi nang salah. Sulitnya, jika orang takarasi buyang mati, bah maju tarus pantang mundur. Kalau selama itu orang bisa berargumen secara santun, ya… kita ikuti…. Kalau orang tidak bisa diajak berkomunikasi, ya… good bye my love. Artinya, kebiasaan kita berpikir ilmu belum dipakai orang, nunggu dua-tiga tahun lagi, kada papa jua.

Salah satu pikiran menarik dari sana adalah, keinginan mengujinya secara proses. Apakah banyak yang menulis bahasa Banjar atau bahasa Indonesia. Lalu, apa yang ditulis itu bentuk lama atau bentuk baru. Kalau yang ditulis itu bentuk lama, ya… kita terima, tapi kalau yang ditulis itu bentuk baru, nanti dulu. Apalagi kalau tulisan itu bukan berisi kode budaya Banjar, sekedar berbahasa Banjar, ngalih memasukan kategori apa, dintu, wah. Makanya, saya terus terang dari dulu ragu-ragu, apa ini cerpen Banjar, tia lain. Kada disambat cerpen luku tabulangkir. Untung dahulu saja menyebutnya cerpen Banjar modern, maksudnya cerpen yang berbahasa Banjar bergaya modern.

Di sini tidak ada arogansi, yang ada berargumentasi. Kalau arogan itu sakahandak pambasaan. Macam-macam yang ingin diungkapkan, termasuk juga hal-hal tidak relevan terbawa-bawa. Ujar peribasa, kada kawa lagi bapiruhut ditunggulguang-gail tunggulnyahandak balapas, luku tinggalam, tapaksa ai ragap papan. Orang ti bakunyung mancari papingkutan. Demikian jua, jika kita berargumentasi, jangan kasak tarus lihati muat kada luangnya. Jangan tabawa hati nang panas, itu kada sapala lawan nang mamulai. Sebaiknya, berdebat sastra Banjar upayakan retorikanya adalah sastra. Orang melihat ini argumennya masuk akal atau tidak. Kalau perdebatan sastra, hilangnya sastra ngalih am kena macari-i.

Sastra Gambaran Pikiran

Apabila sastra hendak kita perlakukan secara esensial mestinya kita memerlukan sastra yang langgeng. Dengan demikian kita memahami posisi sastra sebagai alam berpikir masyarakat. Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat, bahwa sastra lama cerminan masyarakat lama dan sastra baru cermin masyarakat baru. Proposisi itu menunjukan cara pencerminan yang bagus diambil sebagai perumpamaan. Kalau titik sentuh ini kita analogikan ke arah perdebatan kita, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa cara berpikir masyarakat “kita” jauh ke belakang. Sastra Banjar itu ada, tetapi adanya sebagai nostalgia. Pikiran sastra lama--yang memiliki fomat seperti itu—sampai sekarang tidak mampu dituruti sastrawan sekarang. Orang zaman sekarang melihat bahwa itu sebuah kenyataan pemberontakan estetika. Apa yang tersaji dalam bentuk sastra lama mestilah harus beda dengan kehendak berpikir masyarakatnya. Reaksi yang cukup besar muncul mana kala orang mau menulis sastra Banjar. Reaksi pemberontakan terhadap estetika sastra tradisional dijadikan sebagai titik perdebatan. Orang menolak seluruhnya dan ingin menggantikan dengan hal baru, kemudian menamakan dirinya estetika sastra Banjar. Ini namanya terlalu mudah membuat provokasi.

Sebetulnya saya ingin keluar dari plot yang menjerat ini, karena kemunduran pemahaman tentang sastra. Bagi saya, perbedaan mengesankan dari perdebatan tentang ini adalah kemenarikannya tentang “sesuatu” yang tidak diharapkan. Secara fundamental ada hubungan dengan masa lalu. Hubungan masa lalu hendak dirombak diganti dengan masa kini, tetapi tetap dengan memberi label nama masa lalunya. Nama formalnya menuruti nama besar Banjar, sedangkan isinya semua baru. Ada penyimpangan dari yang original ke dalam reduksi model pemahaman yang sekehendak hati. Saya melihat ini adalah isu politik sastra yang cukup krusial pada masa kini.

Jika kita kembali ke tema perdebatan dan pengetahuan tentang sastra Banjar: bentuk mana yang memunculkan isu kecendekiaan—apakah keunggulan sastra itu dimunculkan oleh monolingual atau multilingual? Dan apakah momen masyarakat ini akan ditentukan oleh aspek bahasanya, an sich? Mari kita mengkarakterkan konsep klasik dari paradigma pengetahuan sosial. Di dalam proses ini, kita akan membedakan antara permainan bahasa sastra dengan yang bukan bahasa sastra. Lintasan pengetahuannya adalah lingkaran penggunaan bahasa. Bahasa adalah sumber pengetahuan “kebanjaran”. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa politik untuk memahamkan pengetahuan dan emosi yang bertakik-takik, tidak mungkin orang bisa menangkap hal-hal yang bersifat profan dalam koridor bahasa yang monolingual. Benar atau salah proposisi ini, semuanya mempengaruhi masing-masing pos pragmatisme, yang dimainkan penyampai dan penerimaan.

Pertama, penyampaian harus berbicara kebenaran tentang apa yang dimaksud? Yakni, pada satu sisi, referen tersebut diharapkan dapat memberikan bukti tentang apa yang dikatakan, dan sistem lain yang ia diharapkan dapat menyangkal setiap pernyataan yang bertentangan atau kontradiktif dengan referen yang sama.

Kedua, harus dimungkinkan bagi penerima untuk memberikan secara sah (atau menolak) persetujuan terhadap pernyataan yang didapat. Hal ini ditunjukan sendiri oleh penyampaian yang potensial, sebab saat merumuskan—persetujuan atau ketidaksetujuan—ia akan membuktikan betapa pentingnya sebagai subjek dari dua tuntutan yang sama (bukti atau penolakan) yang dikatakan oleh orang yang mengacu bahwa sastra Banjar tergantung dari bahasanya. Karena ia diharapkan memiliki kualitas yang sama dengan garis pemikiran orang lain. Tidaklah lazim kita berpikir bahwa sastra Banjar pada zaman sekarang ditentukan oleh bahasa Banjar yang dipakainya. Bahasa Indonesia banyak yang mampu mengutarakan hal yang bersifat kebanjaran. Bagi yang tidak setuju itu tidak masalah, silahkan menulis dalam bahasa Banjar. Yang penting kode budaya pada bentuk itu lebih tersedia. Siapa pun dia, dari mana pun asalnya kalau dia menulis dalam kode budaya Banjar tak dipersoalkan. Tetapi ini hanya bisa dipahami bila ia dibicarakan dalam konteks pengembangan sarana berpikir meningkatkan peran sastra Banjar sejajar dengan sastra lain. Kondisi tersebut akan tidak mungkin untuk bangkit jika tetap menggunakan bahasa Banjar, sebab bahasa Banjar sekarang—sadar atau tidak—selalu digunakan sebagai sarana tatawa, bamamai, dan menampung pikiran tradisional, bukan sarana pengembangan kemampuan berpikir. Fungsi kemampuan berpikir itu dapat dilakukan asal direncanakan lagi vitalitasnya.

Sastra Selalu Liar

Karya sastra selalu bergerak liar. Jangan gampang kaget atau suka kagetan kalau suatu ketika diperkirakan hal-hal tidak akan berubah formatnya, susunannya, estetikanya. Lakukan analisis, pelajari segala aspek dan sebab-musababnya secara luas, tuntas serta mendalam. Jangan terlalu cepat mengemukakan pernyataan-pernyataan. Demikian juga, kalau suatu saat tiba-tiba muncul sastra Banjar ditulis dalam bahasa Indonesia jangan dianggap “ganjil”, yang tidak biasa, segera lakukan studi dengan berbagai alat dan cara pendekatan. Juga jangan buru-buru mengeluarkan pernyataan. Kalau memang tidak dapat menghargai, malas atau tidak mampu melakukan telaah atas karya itu, lebih baik diam daripada ikut menciptakan belantara penataan yang pada gilirannya akan menambah kaburnya persoalan. Tidak jarang terjadi, ada orang menganggap atau merasa asing menghadapi kenyataan yang dipaparkan atau disajikan seorang sastrawan karena tidak seperti apa yang diharapkan atau tidak sesuai dengan bayangan semua orang.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup, sedangkan bahasa Banjar adalah bahasa yang terbatas vitalitasnya. Tidak banyak orang yang mampu menulis dalam bahasa Banjar, sedangkan pikirannya perlu dikeluarkan. Karena itu kenapa bahasa Indonesia diambisikan untuk menangkap kenyataan kode budaya sebagai sesuatu yang hidup, banyak coraknya, banyak pikirannya. Pendek kata, banyak kemungkinannya. Salah satu kebanggaan saya, terus terang, sebagai seorang Indonesia, adalah karena bahasa Indonesia memiliki begitu banyak pemakai sebanyak daerah, budaya suku-suku bangsa yang ada. Kita bisa menciptakan sastra standar, sastra bernilai, sastra pinggiran, dan lain-lain dari bahasa yang dipakai. Pikiran dalam sastra tidak akan pernah diketahui bangsa lain kalau kita terlalu memeliharanya dalam bahasa yang memiliki vitalitas terbatas. Tidak berupaya untuk menciptakan keseragaman tetapi perbedaan-perbedaan pemikiran yang dikandung dalam sastra tersebut mampu dibaca orang. Wajar dong kita memiliki cita-cita besar yang memiliki ruh kebudayaan Indonesia yang sedang menjadi. Masalah ini bukan semata-mata masalah teknis permainan tetapi sarana berpikir yang harus dikembangkan. Jadi, perombakan apa pun dan bagaimana pun kecilnya dalam persoalan bahasa adalah juga perombakan dasar-dasar kebudayaan karena penangkalnya adalah perombakan cara berfikir.

Lebih-lebih, kalau saya perhatikan, dalam sastra Banjar sesungguhnya juga memiliki kedalaman berpikir yang tidak setipis dan sesempit sikap kita. Sebagai pembaca saya tidak sampai hati membiarkan “ruh” mati dalam kehidupan. Dalam polemik ini saya sengaja berbeda dan barangkali juga tidak sama pendapat dengan orang yang mengatakan sastra Banjar itu tidak ada. Meskipun berbeda, saya sangat menghargai semangat dan cara mengemukakan pendapatnya. Ini saya persoalan pikiran dan harapan yang dapat dicatat dan selanjutnya—paling tidak—menjadi renungan kita bersama. Sebagian masyarakat sastrawan sekarang masih mendua, kalau tidak mau dikatakan “belum jadi”. Pada satu sisi masih terikat pada pikiran (daerah) kemarin, sedangkan pada sisi yang lain terayun-ayun pada kebudayaan (nasional) yang berubah menjadi kabur.

SASTRA BANJAR ELASTIS

Oleh Jarkasi

Saya yakin dan terus meyakini bahwa kesusatraan akan selalu hidup bagai organisme. Dalam fase-fase tertentu ia bisa takang, tetapi pada fase berikutnya bisa saja ia bergerak liar seirama kemajuan-kemajuan berpikir orang. Dalam analogi lain, bukankah era ular lidi, naga balimbur, gigi haruan pada fase ornamen Banjar berikutnya mengakui masuknya inspirasi baru sehingga mewujudkan tali bapintal, gagatas, dan nenas. Karena itu, bisa saja pada fase-fase selanjutnya inspirasi itu terus berdialektik mencari kemapanan baru.

Dinamika berpikir bisa saja bergerak pelan dan hadir mencengangkan orang di sekelilingnya. Ini terjadi karena orang menginsyafi hikmah berpikir yang dikaruniakan Allah swt. yang selalu dimanfaatkan secara tepat dan benar. Allah swt. mempersilahkan manusia untuk mencari dan menemukan tanda-tanda baru kebesaran-Nya, tapi bukan untuk menjadikan diri sendiri lupa, lalu menganggap mapan dan paling benar. Sepanjang orang masih bisa memperdebatkan melalui tangga-tangga argumentasi—bukan ekspresif—tentu masih bisa dipakai sebagai sebuah medan adu pikir. Kita yang menghormati proses berpikir, mari kita sama menjauhkan pikiran kasar yang berakar pada sentimen dan ego kultural.

Sungguh banyak hal dalam hidup ini yang belum tertuntaskan, karena itu mari bekerja sama menelaahnya secara proporsional. Untuk menyederhanakan perbedaan yang ada mari kita mempertimbangkan satu hal yang biasanya dipakai dalam penerapan cara berpikir ilmiah. Salah satunya adalah mengotak-atik batasan operasional. Saya melihat, dua hal yang tidak bisa disatukan dari pandangan kesastraan adalah, masih dikuatkannya batasan-batasan lama tentang satu hal yang sesungguhnya bisa meninggalkan kita dengan munculnya pemikiran-pemikiran baru yang seharusnya juga bisa disikapi. Misalnya, definisi sastra yang hanya mengandalkan objek-objek masa lalu selalu akan mengalami kegagalan jika berhadapan dengan fenomena baru dari suatu kenyataan trend cipta sastra mengacu pada idiom ketegangan dan pembaharuan. Ambil contoh, sastra dimengerti sebagai karya bahasa yang indah bagus. Terkadang sukar menemukan mana indahnya dan mana bagusnya. Lalu, muncul pula definisi turunannya, puisi adalah karya terikat; terikat oleh bait, irama, bahasa dan sebagainya. Sebaliknya, prosa, katanya karya yang bebas, tidak terikat oleh baris, bait, irama, dan format. Pemahaman itu selalu terbaca dalam buku-buku pembelajaran sastra masa lalu. Selanjutnya, kita pun bertemu dengan puisi-puisi mutakhir sebutlah misalnya puisi konkret, puisi kotak, puisi mini kata, puisi bebas atau puisi-puisi yang lebih mengutamakan isi. Begitu juga, kalau kita menemukan prosa-prosa liris atau juga prosa-prosa mini, kita pun menjadi bingung merekonstruksi cetak biru dari pemahaman prosa yang pernah kita tangkap dari beberapa fase sekolah. Serpihan otak kiri dan kanan kita sering berdebat internal, apa yang salah dengan pengertian masa lalu. Demikian pula sering orang memberi batasan bahwa fiksi adalah karya imajinatif (khayal), dan non-fiksi adalah karya ilmiah tanpa khayal. Namun, kenyataannya banyak fiksi yang memuat fakta, sebaliknya begitu bejibun orang merekadaya sebuah penelitian di belakang meja atau tulisan-tulisan yang dikategorikan non-fiksi tapi sesunggunya fiksi. Kita menjadi asing dalam sangkar emas yang kita ciptakan sendiri. Kita tidak bisa keluar menyaksikan keramaian.

Seyogianyalah, kita tidak mesti harus terkejut dan sinis memandang kalau ada seorang yang berpendapat bahwa karya sastra itu memiliki dimensi yang cukup dinamis dan bergerak bagai organisme. Jika ada sastra Banjar yang tidak berbahasa Banjar sebutlah misalnya bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Jepang dan sebagainya, saya pikir itu hal-hal yang ringan saja. Lalu apakah sastra yang berbahasa Banjar sendiri kita tinggalkan, ya enggak toh. Sebab, ini fase yang pernah dilalui dan kita memang harus memahami dinamika itu. Bertahan dalam sangkar emas pengertian bahwa sastra Banjar—apakah puisi atau prosa—dibangun oleh bahasa Banjar adalah sesuatu yang sebaiknya kita retrospeksi lagi jika tidak ingin dikatakan membelenggu bagi pencapaian gairah lain dalam pengembangan kode kultural. Masalahnya, trend cipta sastra itu sendiri bergerak liar. Perdebatan klasik sering dihembuskan trend penulisan teori sastra selalu tertinggal dengan kemajuan yang terjadi dalam dunia sastra itu sendiri. Lalu, jika ada yang berpendapat bahwa sastra Banjar tidak mesti dengan bahasa Banjar dengan segera kita tafsirkan orang itu tidak senang sastra Banjar atau sikapnya arogan, tidak mencintai sastra Banjar, dan sebagainya. Ini namanya lain gatal lain yang digaruk.

Saya memahami, ada dua pemikiran dasar yang basengkengan tetapi sama-sama argumentatif—boleh terus dibedakan atau mau dikombinasikan juga boleh. Yang pertama membawa definisi teoretis-operasional, sedangkan yang satunya lagi harmonis kondisional. Yang pertama akan menafikan segala bentuk perkembangan pikiran-pikiran baru yang “mungkin tidak salah”, sedang yang satunya lagi punya pandangan jauh ke depan seirama dengan sifat cipta sastra yang selalu bergerak “liar”. Dua pokok pikiran ini memang sulit bertemu. Karena itu, saya lebih senang menyerahkannya kepada audiens dan membiarkan kreativitas ini hadir, mengalir tanpa harus dibelenggu. Dalam ilustrasi lain, saya paling sedih kalau ada tulisan di pangkalan becak; becak lain silahkan jalan atau ojek lain silahkan terus. Seperti tidak menyukai kalau ada orang lain mendapatkan rezeki dari Allah swt. di dekat pangkalan itu. Ilustrasi ini bisa diteruskan, semakin tidak bisa berterima kalau kita berbeda pandangan dalam memandang sesuatu yang bergerak dinamis.

Umberto Eco (1976: 7) dalam bukunya A Theory of Semiotics mengingatkan, kita harus sadar kapan kita merasa dikelabui, mengapa itu terjadi, dan bagaimana itu terjadi. Ungkapan ini bisa saya imajikan kadang-kadang tanpa sadar kita membohongi atau mengelabui orang lain dengan tanda-tanda dan simbol yang kita nyatakan, padahal simbol itu memiliki fase-fase makna tersendiri dalam arus zaman. Ada semangat zaman yang harus kita baca. Itulah sebabnya, saya tentu tidak akan keberatan kalau sastra yang berbahasa Indonesia atau bahasa asing bisa dikatagorikan sastra Banjar jika sastra tersebut memuat kode-kode kultural Banjar atau setidaknya bisa dengan alih kode (code switching).

Disayangkan, ini menjadi rumit karena setiap “kita” hanya berpegang pada satu realitas masa lalu sebagai pintu yang dikunci rapat. Boleh ‘kan kalau saya berpostulat bahwa kita perlu mempelajari alam nyata untuk bisa juga meraba di mana gelap dan di mana terang. Saya khawatir, jangan-jangan si Nurdin memahami perkuliahan bahasa-sastra di Program Studi PBSID itu menangkap simbol-simbol yang zakelijk, padahal dia perlu berpikir liar dan ambivalen.

Sastra kita bergerak dinamis dengan medan ungkapan yang multimedia. Itu tidak bisa dihindari. Yang harus dijaga adalah, setiap media mesti memelihara titik kulturalnya. Apa pun bahasa yang dipakainya akan kembali ke titik pusatnya “Banjar”. Ini perlu kesabaran kita memahaminya. Pemahaman akar itulah yang tidak boleh hilang. Kalau kita bicara akar, linierkah maksudnya dengan bahasa? Tidak, ‘kan? Bahasa hanya sarana berpikir, alam berpikirnya sendiri utuh dan mengikat sekali dengan kode kultural. Beda sekali dengan teater, tari, musik yang secara inheren itu semua adalah sistem kesenian, sedangkan substansinya amat universal. Jadi tidaklah patut dikhawatirkan jika sastra Banjar itu bukan berbahasa Banjar. Fenomena ini ‘kan bisa saja terjadi secara temporer, tetapi pintu masuknya tersedia, bukan menguncinya rapat-rapat.

Jika si Nurdin cuma cinta dan takjub pada sastra berbahasa Banjar, sedangkan dia banyak sekali menemukan kode-kode budaya Banjar dalam sastra berbahasa lain, bingung ‘kan? Kebetulan minum di warung Acil Mijah, lalu taulai ai. Jika Nurdin membaca tulisan ini, saya sarankan agar dia mau memahami dunia sastra yang multidimensional agar sastra itu memiliki kesaktian untuk langggeng. Jika Nurdin ikut mendulang, jangan terlalu banyak mencintai mitos, tapi perbanyak hati-hati sebab lobang dulangan itu bisa rumbih dan kita bisa mati tapatak di dalamnya. Kita masih asyik dengan sesajen dan piduduk, saat mau mendulang, sedangkan orang lain sibuk sekali dengan mesin-mesin dan alat-alat canggih.

Memahami dunia sastra perlu pertimbangan. Jangan terlampau mengandalkan romantisme, sebab bisa-bisa salah kaprahnya tentang yang kita sangka isinya padahal kulitnya, yang kita sangka identitas ternyata bajunya. Dalam pandangan ilmu kesehatan suatu penyakit bisa saja disembuhkan dengan menginsyafi bahwa kumpai-kumpai di halaman kita dan di dalam diri kita justru begitu banyak tatabulan yang memang sebaiknya ditabasi. Kekhawatiran kita terhadap kelesapan apa yang kita maksudkan dengan identitas kesusastraan Banjar—jika memang tidak ada penerusnya atau tidak ada pengayoman pihak tertentu—sesungguhnya bisa dikreativitaskan dan redam dengan penglihatan terhadap kontinyuitas akar budaya, keharusan untuk kontinyu serta kerelaan untuk modifikasi. Kita justru akan makin gagal untuk berbangga diri sebagai komunitas yang memiliki sastra Banjar ketika berjalan dengan satu wajah cemberut dan konservatif.

Apakah sastra Banjar akan hilang tanpa sastra berbahasa Banjar? Tidak, kan? Yang penting kita tidak akan menampik, siapa pun dan bahasa apa pun yang datang dan sungkem mengangkat akar budaya Banjar—kendati sekedar datang ber-KKN atau datang menjenguk mertua—jangan takut mengakui bahwa yang ditulisnya itu adalah sastra Banjar atau yang lebih khusus lagi subdialeknya karena sarat kode kulturnya. Tak ada dosa juga ‘kan kalau sastra Banjar itu ditulis dalam bahasa yang bukan Banjar. Ini artinya makin berpihak pada kreativitas. Rasanya, tak ada juga pihak yang kredibel memberi fisibilitas untuk menentukan sastra Banjar adalah berbahasa Banjar atau sastra Banjar harus berbahasa Indonesia atau bahasa asing. Yang ada semua pihak diberikan kesempatan melangsungkan interaksi kreatif dengan sastra “kita Banjar”. Yang penting jangan mengatakan sastra berbahasa Banjar itu sudah tak dipercaya atau ketinggalan zaman, atau sastra berbahasa Banjar itu uyuh. Kalau yang terakhir ini bahualai ganal am.

Terus terang saya tidak ingin lagi mengingat-ingatkan dengan sikap politik. Saya hanya ikut membela siapa pun dan dengan bahasa apa pun yang menulis sastra Banjar dengan kekentalan kode budaya Banjar boleh jadi adalah sastra Banjar. Apakah sastra Banjar anggota biasa luar, anggota biasa, atau sastra Banjar anggota kehormatan. Itu sih berkenaan dengan sikap politik yang tidak saya senangi. “Kita” terkadang paling senang menciptakan batasan-batasan dan kategori eksklusif, yang hanya didasari oleh kecemburuan dan konservatif.

KETERASINGAN DAN KEINTIMAN DALAM RUMAH SASTRA BANJAR

Oleh Sainul Hermawan

Tulisan Burhanuddin Soebely, “Ujar Aluh: Yang Sempit Itu Enak” dan tulisan Setia Budhi, “Membuang Rasa Kagum terhadap Sastra Banjar” memberikan informasi berharga bagi para orang asing dan para orang dalam yang juga asing terhadap sastra Banjar mengenai sebagian kondisi mutakhir sastra Banjar. Orang asing itu—mungkin termasuk saya—bersama orang dalam yang asing yang juga mungkin sangat banyak jumlahnya. Dalam hal ini asing dan intim kadang-kadang batasnya juga remang-remang.

Idealnya, seorang sastrawan yang telah lama menghidupkan sastra Banjar dalam segala dimensi sistemnya kurang layak jika berlagak atau merasa asing dengan sastra Banjar. Tapi jika tiba-tiba hal yang kontra ideal tersebut terjadi, hal ini dapat kita pahami sebagai sebuah bentuk keterasingan tuan rumah sastra Banjar terhadap rumahnya sendiri.

Karena penghuni rumahnya yang banyak, hiruk-pikuk, kurang disiplin, meski hidup bersama di bawah satu atap, antara penghuni yang satu dan yang lainnya tak mau tahu menahu, tak mau saling bahu-membahu. Setiap penghuninya sibuk mengurusi popularitasnya sendiri dengan cara pura-pura mabuk dan pura-pura pingsan, dengan cara selingkuh kecil-kecilan dengan penguasa, dan sebagainya.

Idealnya, orang serumah itu musti rukun, intim, saling bisa merasakan, saling peduli, saling asah dan asuh. Penghuni senior mestinya mengasihi dan memotivasi penghuni yunior agar terus mengembangkan kreativitas kesastraannya karena mereka kelak adalah generasi penerus atau pemegang tongkat estafet sastra Banjar yang berikutnya. Sastrawan senior dan junior, sastra Banjar berbahasa Banjar dan sastra Banjar berbahasa Indonesia, sastrawan kota dan pedalaman dan sastrawan kota, sastrawan dan pembacanya, dan sebagainya mestinya harus selalu bersanding merundingkan nasibnya di hadapan godaan globalisasi, bukan saling bertanding untuk saling mematikan.

Kalau hal ini dapat berjalan dengan baik, tentu setiap penghuni rumah sastra Banjar dapat menjelaskan kepada para orang asing yang ingin intim dengan sastra Banjar ketika orang asing tersebut menganggap atau sedang membayangkan pasti ada sesuatu yang sangat berharga dalam sastra Banjar.

Namun ketika B. Soebely dan S. Budhi pun mempertanyakan sastra Banjar secara implisit dalam nada yang mungkin agak ngepop, “Ada apa denganmu?”, ini mengindikasikan bahwa yang merasa asing dengan sastra Banjar bukan sepenuhnya orang asing, atau orang-orang kota atau bukan pula orang-orang di negeri angin yang (dibayangkan) gagah perkasa (meminjam ungkapan S. Budhi).

Jadi, perdebatan antara guru bahasa dan sastra di pelosok negeri dan orang-orang kota bukan semata bersifat oposisi biner antagonistik dan absolut sehingga atribut keterasingan persepsi terhadap sastra Banjar tak sepenuhnya dapat disandangkan hanya kepada orang kota dan keintiman emosional hanya dapat disandangkan kepada orang pedalaman. Keduanya sama-sama berpeluang untuk intim sekaligus terasing dengan sastra Banjar. Orang pedalaman masa kini sudah mudah bercinta dengan televisi seraya mungkin sambil berkata dalam hati, “Go to hell with Sastra Banjar!”

Di samping itu, keintiman yang lama dan intens orang pedalaman dengan sastranya secara psikologis juga berpeluang membuka ruang bagi proses banalisasi persepsi, otomatisasi atensi. Ibarat pacaran, karena terlalu intim, kedua pasangan tersebut jadi bosan. Jadi, ada untungnya ada orang asing yang masih mau dan mampu menjaga jarak dengan sastra Banjar, melihat sastra Banjar secara proporsional dan tak terlalu subyektif sehingga pada akhirnya perhatiannya terhadap sastra Banjar tetap konstan: tidak bosan dan tak terlalu terkesan.

Kalau saya apropriasi jawaban untuk pertanyaan S. Budhi yang mempertanyakan kategori sastra Banjar yang mana—dari sederet kategori panjang yang dia sebutkan dalam tulisannya—yang sedang diperdebatkan? Pertanyaan semacam itu bagi ramuan gembrot tentu sangat mudah dijawab dan landasan perdebatannya terbentang luas. Persoalannya, siapa yang harus menjawab: orang asing atau orang dalam?

Sejauh itu perdebatan ini tidak hampa karena sumber-sumber perdebatannya ternyata memang ada, seperti telah disinyalir oleh B. Soebely di akhir tulisannya. Perdebatan ini juga dapat menjadi langkah awal untuk mengagas langkah berikutnya yang lebih programatis dalam rangka memperbaiki lahan dan habitat untuk menegaskan identitas unikum sastra Banjar. Namun, perdebatan ini bisa saja seketika jadi hampa jika seluruh penghuni sastra Banjar menyikapinya sebatas obrolan sambil lalu karena pertimbangan, yang bagi saya, aneh: pertimbangan yang memandang ada dan tiadanya sastra Banjar tidaklah penting bagi tuan rumahnya sendiri. Apakah ini merupakan karakteristik ekstrinsik yang khas dari sastra Banjar?

Ramuan Gembrot dan Salawar Urang

Definisi sastra Banjar yang luwes, elastis, lentur, dan luas, bukan semata dimaksudkan untuk mencaplok wilayah sastra yang bukan bagiannya meski mungkin saja digunakan untuk itu. Tetapi definisi luwes selalu berupaya menempatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap fluiditas identitas sastra Banjar. Apakah karya Ngarto dan NH Dini dalam kasus karyanya yang disebutkan B. Soebely dapat dimasukkan ke dalam sastra Banjar?

Kita lihat dulu bagaimana masyarakat sastra Banjar memposisikan kedua karya tersebut. Jika masyarakat Banjar mengiyakan, maka jadilah keduanya sebagai sastra Banjar. Jadi, definisi gembrot hadir bukan dengan kesadaran singset yang menutup diri terhadap segala kemungkinan perubahan identitas sastra Banjar. Ia sangat akomodatif. Ia bisa menerima pandangan bahwa sempit itu enak untuk satu hal dan belum tentu enak bagi hal yang lain. Bagi definsi gembrot, klaim bahwa sempit itu enak tentu sangat kontekstual, tergantung apa yang ingin dimaksudkannya, bahkan di baliknya pernyataan itu juga bisa berarti: sempit itu juga tak enak bagi “gairah” yang mudah layu.

Dengan kata lain, definisi yang luas pasti jauh dari niatan untuk mendefinisikan sastra Banjar secara sepihak dalam pengertian definisi sayalah yang paling benar dan yang lain keliru sama sekali. Karena jauh dari watak sepihak, definisi yang luas jelas tak riskan apalagi sampai dapat merendahkan sastra Banjar.

Definisi yang luas adalah definisi dinamis yang dapat digunakan untuk melihat sastra Banjar dalam segala dimensinya. Bahkan definisi yang luas tidak menafikkan definisi yang singset karena definisi yang luas ini adalah akumulasi dari definisi-definisi yang sempit dan sepihak. Definisi yang luas adalah medan seleksi bagi pemungutan definisi yang relatif adekuat bagi kepentingan tertentu.

Jadi, sastra Banjar bisa sastra berbahasa Banjar di mana saja di seluruh dunia, bisa pula sastra karya sastawan Banjar yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang diproduksi dan dikonsumsi di Banjar (baik sebagai kategori geografis maupun sebagai kategori kultur), dan bisa juga selain dua kategori ini, yaitu segala sastra dalam bahasa apa saja, dikonsumsi di mana saja, yang oleh masyarakat Banjar diklaim sebagai sastra Banjar.

Sejauh ini lamunan saya tentang sastra Banjar mungkin tak jauh beda dengan ruh lamunan sajak “Lamunan” karya B. Soebely dalam La Ventre de Kandangan (2004: 200).

Sehabis bercakap di inti diri, kukenangkan sejenak

apa-apa yang terluput dari hidup, dan membayangkan

ke mana perginya ruh setelah ketiadaan agar terdapat

titik pinasti bahwa setelah saat itu masih akan ada

hidup yang lain

Tetapi aku tak menemukan apa-apa, kecuali segumpal

Awan dari tanyaku yang terasa demikian asing lantaran di

tiap ujung bayang-bayang yang datang Engkau jualah yang

meletakkan pandang. Memperdalam Hening.

Keterasingan orang Banjar terhadap khasanah sastranya begitu terasa keheningannya sehingga, untuk sementara, saya bisa menyatakan, meski tak sedikitpun berpretensi untuk menyimpulkan secara mutlak, bahwa inti diri atau core identity sastra Banjar adalah sastra yang hening dari atensi publiknya, baik senimannya maupun pembacanya. Karenanya, mengharapkan guyuran gagasan dari gumpalan awan yang dihadirkan S. Budhi adalah harapan untuk mempertegas sudut pandang mengenai eksistensi sastra Banjar atau sebagai salah satu sumber energi baru bagi kebangkitan kembali sastra Banjar.

Jamal Sang Penyair

Tetapi niat saya untuk intim dengan sastra Banjar, dengan cara yang saya lakukan selama ini telah dituduh sebagai sikap arogan oleh Jamal yang merasa sebagai Mr. Big dalam—mungkin juga owner—rumah sastra Banjar. Keinginan untuk intim yang diniatkan agar sempat mengembangkan kebiasaan pembacaan kritis terhadap keberadaan sastra di Banjar justeru telah dipandang sebagai keengganan mengakui keberadaan sastra Banjar (Lihat “Masalah Eksistensi dan Problem Pengembangan”) hanya karena pernyataan saya bahwa sastra Banjar dalam hal tertentu bersifat agnostik: ada tetapi tidak ada.

Tetapi tak apa-apa karena inilah satu lagi bukti dampak keterbatasan bahasa yang saya gunakan dan keterbatasan resepsi penerimanya. Sebenarnya permintaan Jamal dalam tulisannya agar saya menjelaskan dengan argumen logis dan lebih realistis mengenai maksud keagnostikan sastra Banjar telah dijawab secara logis dan realistis oleh tulisan Jamal sendiri. Sebagian jawaban lain juga tersampaikan secara tersirat dalam tulisan B. Soebely dan S. Budhi.

Mari kita lihat pada paragraf ke-7 sampai ke-9 dalam tulisan “Masalah Eksistensi....”. Ketika Jamal mengatakan di akhir paragraf ke-7 bahwa kondisi sastra Banjar jauh lebih terjepit daripada sastra Jawa dan, pada paragraf ke-8, menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi sastra Banjar menyangkut persoalan pengarang, pembaca, media penerbitan, dan kritik sastra, serta, pada paragraf ke-9, menyatakan bahwa sistem sastranya tidak kondusif, hal ini sebuah kenyataan agnostistik bagi saya: sastra Banjar lebih banyak berada dalam angan-angan dan nostalgia daripada dalam kenyataan yang hidup dan meriah. Adalah “fitnah” jika saya dianggap tak mengakui keberadaan sastra Banjar.

Bahkan saya sangat mengakui eksistensinya dalam perspektif yang gembrot, luwes, lentur, elastis, “tuyul”, dan (kata Jamal) dengan cara “anak bau kencur” yang miskin pengetahuannya soal hakikat eksistensi sastra Banjar. Saya sangat bersimpati dengan apresiasi yang menganggap cara saya menyikapi sastra Banjar seperti ini sebagai salah satu bentuk upaya untuk berpartisipasi dalam pengembangannya. Tetapi cara fitness pikiran gembrot saya memang tidak saya tujukan untuk mencapai kesingsetan yang kekar dan perkasa pada akhirnya. Ya, ini sekedar cara hidup sehat dengan mensyukuri karunia Tuhan: otak, hati, mata, dan jemari. Jika niat ini pun disalahpahami, ya terserah.

Begitu pula dengan pertanyaan Jamal soal parameter keberadaan sastra Banjar sebenarnya juga sudah dijawab sendiri olehnya dalam tulisan itu: parameternya bukan semata soal kuantitatif dan kualitatif, melainkan juga soal sistemik dan programatika-nya (meminjam istilah B. Soebely). Jadi, ketika semua itu ada pada sastra Banjar berarti secara kaffah sastra Banjar memang ada, tetapi jika hanya ada sebagian, maka keberadaannya berarti agnostik: ada, tapi sebagian (kalau tak bisa dikatakan sudah benar-benar lenyap dan belum berganti). Dalam tulisan-tulisan sebelumnya Jamal seringkali melakukan hal semacam ini: pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada orang lain sudah dijawabnya sendiri sehingga orang lain tak perlu lagi menjawabnya meskipun pertanyaannya sebenarnya bukan pertanyaan retoris.

Apapun keputusan publik sastra tentang polemik ini, dialektika tulisan saya dan Jamal, serta tulisan-tulisan lainnya baik yang sudah maupun yang akan muncul, akan saya kenang sebagai sebentuk “percintaan klasik” antara akademisi sastra dan sastrawan sambil merenungkan sajak “Jangan Bercinta dengan Penyair” karya Faiizi L. Kaelan (2003: 27).

Aku menghuni sunyimu

dengan simponi angin mengiringi pencari kayu

engkau melambung ke angkasa

langit yang entah berbatas mana

lalu, kutitikkan untukmu puisi:

setetes madu lebah putih

dari rimba tempat Arjuna mengelana

“Aku kekasih paling kekasih,”

begitulah bisikan penyair

tapi karena engkau terlanjur percaya

pada kata-kata para pujangga zaman romantik

maka tak juga jera

engkau menjadi yang kesekian,

yang keberapa

Sekarang, bilang!

“Aku musuh penyair, aku musuh penyair

mereka yang lahir dan mati di taman bunga

tanpa pernah tahu, kalau dunia ini sepenuhnya neraka!”

Sekarang, katakan!

bahwa cinta adalah Rahwana

dan Shinta tak pernah lahir untuk Rama

bertualanglah dengan siapa

sampai engkau merasa yakin

bahwa selain aku,

semua yang membual padamu

adalah bajingan!

Karena keintiman percintaan, mungkin, seperti dalam sajak ini, sang penyair merasa sah-sah saja menggunakan “licentia poetica”-nya sebagai “pemilik asli” sastra Banjar untuk sarik pada siapa saja yang mau mengusik keotentikan romantiknya. Nuansa semacam inilah yang sangat terefleksikan dengan kentara pada paragraf ke-5 tulisan Jamal. Mereka yang asing, berlogika tuyul, bajingan dan bau kencur dalam soal sastra Banjar, silahkan minggir. So, who is the
most arrogant and unrealistic?